Senandungnya kudengar sengau,suaramu seperti pupus dihempas debu.
Melihatmu saja tidak bisa,hanya mendengar dengan lirih dan hilang. Untuk kali
pertama aku bertemu dengan nestapa. Isak tangisku bukan sebuah penyesalan….
Isak tangis ini berisi penantian,hingga waktu berbenturan dan kita bertukar
kelakar. Setapak dua tapak dan tidak berjejak waktu berguling dengan angkuh.
Aku masih berdiri menunggumu pulang dan bermain. Ini memang bukan perpisahan
untuk kesedihan, tapi mengimani setiap kata-kata terakhirmu itu membuatku kaku
seluruh badan. Benar kata orang,hidup itu dinamis. Segalanya akan pergi sedikit meninggalkan jejak dan lenyap tak berbaur. Aku masih ingat saat kita bermain di
kelas yang dikelilingi selaput canda. Saat itu aku memakai sepatu berwarna hitam
dan kau juga. Aku masih ingat semua dengan sempurna. Ketika pahlawan tanda jasa
menagih jasanya untuk bekal keluarganya dirumah. Ketika kita semua dipaksa
duduk dalam satu ruangan untuk menemani dan ditemani papan tulis dan semua mata
menatap dengan jemu. Aroma keringatmu pun masih menohok kedua lubang hidungku
hingga saat ini. Segalanya masih utuh dalam benak. kita dulu pernah berjanji
akan memanipulasi waktu,apa kau masih ingat? Kita ingin pisahkan waktu dengan
detik dan menit lalu memenjarakannya di palung tanah yang paling dalam. Buah
pikiran yang gila ketika aku mengingatnya sekarang. hakikatnya waktu terlalu
lekat dengan detik dan menit,malah mereka satu senyawa yang tidak bisa diusik
kebersamaannya walau sesaat. Itu semua hanya pikiran segerombol makhluk yang
tak ingin dipisahkan dan muncul ide yang absurd saat waktu menghantam mereka.
Tatkala mereka hanyut dalam argumen yang mendewasakan mereka dan digma yang
memberi arah ,mereka akan bangkit dan memulai lembaran pelipur lara yang baru.
Membuat labirin yang didalamnya berisi senandung saat mereka sedang hina. Aku
ingin kau menceritakan ini pada anakmu
nanti, beri tahu mereka dengan senandung lembut,jauh dari elegi yang sudah bias
bersama waktu. Ceritakan segala sani yang mungkin tidak bisa diulang untuk
kedua kali,untuk sangu anakmu saat beranjak dewasa kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar