Sastra bukanlah hal baru di negeri kita. Para leluhur telah
mengenal sastra dengan akrab dalam kehidupan sehari-harinya. Hal itu dapat
dibuktikan dengan adanya kitab-kitab kuno dan candi-candi yang di dalamnya
terdapat tulisan sejarah atau ajaran agama. Sastra sendiri memiliki kedudukan
yang tinggi pada masa tersebut. Para raja-raja memiliki penasihat yang biasanya
berasal dari kalangan “pujangga”. Orang-orang yang disebut pujangga tersebut
dianggap sebagai orang yang berilmu tinggi dan terpelajar, setiap kata-katanya
memiliki nilai yang lebih berharga daripada mutiara. Seperti contohnya mpu
kanwa dengan kitabnya yang bernama arjunawiwaha dan mpu tantular dengan
kitabnya yang bernama negarakertagama. Dari rangkaian ulasan sejarah tersebut,
dapat kita simpulkan bahwa sastra memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam
menentukan arah tindakan dan kemudian menjadi sebuah peradaban yang sangat berarti dampaknya dalam kultur
Indonesia saat ini. Keragaman yang eksistensinya menjadi kebanggaan Indonesia
di mata dunia.
Berkaca pada sejarah tentang kesusastraan Indonesia saat ini, menimbulkan polemik yang tidak
menemukan jalan keluar. Hal-hal baru yang muncul dari aktivitas globalisasi
serta westernisasi yang kian menampakkan gadingnya, membuat nilai-nilai yang
fundamental hilang dari sarangnya. Selain pengaruh eksternal, ada juga bermacam
kendala yang muncul dari internal Indonesia sendiri. Pertama, Generasi penerus
bangsa seolah-olah atau sengaja melupakan tentang sejarah dan moral yang ada di
dalamnya. Perspektif akan kekonyolan belajar kesusastraan pada era ini
menyebabkan gairah untuk memelajari kesusastraan Indonesia sangatlah minim .
Implikasi dari hal itu semua berimbas pada tidak terurusnya naskah-naskah kuno
dan warisan masa lalu yang dibiarkan rusak atau ditelantarkan oleh pemiliknya.
Padahal barang-barang tersebut memiliki nilai yang tinggi di mata dunia. Kedua,
pertanyaan tentang manfaat apa yang bisa diambil dari sastra, apakah bisa
membuat orang tersebut menjadi kaya raya?. Sudah menjadi watak manusia tentang
ekspektasi yang berlebih terhadap materi. Di desa atau pun kota semuanya
mengejar materi untuk kebutuhan jasmani semata, padahal hakikatnya kebutuhan
rohanilah yang menjadi akar dari segalanya termasuk materi yang diperlukan dan
diimpikan. jika pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan sebuah
pernyataan, maka muncul sebuah pertanyaan baru yang mungkin bisa menjawab
pertanyaan tersebut atau malah menambah kerumitan yang terjadi saat ini.
Pertanyaan itu tentang “ apakah orang kaya itu sebelumnya atau ketika masa
mudanya dia tidak memelajari sastra?” mungkin saja sebelum dirinya menjadi
berhasil, dia telah mengenal dan membaca sastra sebagai kebutuhan rohani
batinnya. Tidak ada yang tahu. dan ke tiga, tentang pengenalan sastra sejak
dini baik di lingkup formal maupun informal yang masih jauh dari harapan.
Keluarga merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam
pembentukan pribadi dan pola pikir seorang anak. salah satu fungsi keluarga
adalah penanaman moral yang sebaiknya dilakukan dengan cara yang dapat
dimengerti dan diterima, agar tidak terjadinya salah tafsir oleh sang anak.
seperti contoh mengenalkan anak dengan carita-carita atau babad yang berisi
petunjuk-petunjuk dalam menjajaki kehidupan. Kemudian, peran sekolah dalam
lingkup formal juga masih jauh untuk dikatakan memenuhi standar. Pembelajaran
tentang sastra hanya sebatas pengenalan puisi, dan cerpen yang itu pun ada di
dalam buku wajib B.Indonesia, lalu terkadang pembahasannya tidak sampai terselesaikan
dan dilewat begitu saja.
Sungguh miris memang jika kita melihat nasib kesusastraan
Indonesia yang saban hari kehilangan tempat di hati para penikmatnya. Peran
media yang hanya mengekspos sastra dari satu sisi saja malah membuat sastra itu
sendiri menjadi hal yang tidak penting untuk diperhatikan. Sejatinya, sastra
itu hidup di kepala anak adam dan hawa, mereka menjadi pelipur lara yang ampuh
dan sebagai media ekapisme. Jadikanlah sastra untuk kebutuhan rohani di tengah
proses dekadensi menuju dehumanisasi yang kian merajalela dalam kehidupan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar