Kamis, 24 Mei 2012

Kesusastraan Indonesia ; dimensi rohani yang hilang



Sastra bukanlah hal baru di negeri kita. Para leluhur telah mengenal sastra dengan akrab dalam kehidupan sehari-harinya. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya kitab-kitab kuno dan candi-candi yang di dalamnya terdapat tulisan sejarah atau ajaran agama. Sastra sendiri memiliki kedudukan yang tinggi pada masa tersebut. Para raja-raja memiliki penasihat yang biasanya berasal dari kalangan “pujangga”. Orang-orang yang disebut pujangga tersebut dianggap sebagai orang yang berilmu tinggi dan terpelajar, setiap kata-katanya memiliki nilai yang lebih berharga daripada mutiara. Seperti contohnya mpu kanwa dengan kitabnya yang bernama arjunawiwaha dan mpu tantular dengan kitabnya yang bernama negarakertagama. Dari rangkaian ulasan sejarah tersebut, dapat kita simpulkan bahwa sastra memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam menentukan arah tindakan dan kemudian menjadi sebuah peradaban  yang sangat berarti dampaknya dalam kultur Indonesia saat ini. Keragaman yang eksistensinya menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.
Berkaca pada sejarah tentang kesusastraan Indonesia  saat ini, menimbulkan polemik yang tidak menemukan jalan keluar. Hal-hal baru yang muncul dari aktivitas globalisasi serta westernisasi yang kian menampakkan gadingnya, membuat nilai-nilai yang fundamental hilang dari sarangnya. Selain pengaruh eksternal, ada juga bermacam kendala yang muncul dari internal Indonesia sendiri. Pertama, Generasi penerus bangsa seolah-olah atau sengaja melupakan tentang sejarah dan moral yang ada di dalamnya. Perspektif akan kekonyolan belajar kesusastraan pada era ini menyebabkan gairah untuk memelajari kesusastraan Indonesia sangatlah minim . Implikasi dari hal itu semua berimbas pada tidak terurusnya naskah-naskah kuno dan warisan masa lalu yang dibiarkan rusak atau ditelantarkan oleh pemiliknya. Padahal barang-barang tersebut memiliki nilai yang tinggi di mata dunia. Kedua, pertanyaan tentang manfaat apa yang bisa diambil dari sastra, apakah bisa membuat orang tersebut menjadi kaya raya?. Sudah menjadi watak manusia tentang ekspektasi yang berlebih terhadap materi. Di desa atau pun kota semuanya mengejar materi untuk kebutuhan jasmani semata, padahal hakikatnya kebutuhan rohanilah yang menjadi akar dari segalanya termasuk materi yang diperlukan dan diimpikan. jika pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan sebuah pernyataan, maka muncul sebuah pertanyaan baru yang mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut atau malah menambah kerumitan yang terjadi saat ini. Pertanyaan itu tentang “ apakah orang kaya itu sebelumnya atau ketika masa mudanya dia tidak memelajari sastra?” mungkin saja sebelum dirinya menjadi berhasil, dia telah mengenal dan membaca sastra sebagai kebutuhan rohani batinnya. Tidak ada yang tahu. dan ke tiga, tentang pengenalan sastra sejak dini baik di lingkup formal maupun informal yang masih jauh dari harapan.
Keluarga merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam pembentukan pribadi dan pola pikir seorang anak. salah satu fungsi keluarga adalah penanaman moral yang sebaiknya dilakukan dengan cara yang dapat dimengerti dan diterima, agar tidak terjadinya salah tafsir oleh sang anak. seperti contoh mengenalkan anak dengan carita-carita atau babad yang berisi petunjuk-petunjuk dalam menjajaki kehidupan. Kemudian, peran sekolah dalam lingkup formal juga masih jauh untuk dikatakan memenuhi standar. Pembelajaran tentang sastra hanya sebatas pengenalan puisi, dan cerpen yang itu pun ada di dalam buku wajib B.Indonesia, lalu terkadang pembahasannya tidak sampai terselesaikan dan dilewat begitu saja.
Sungguh miris memang jika kita melihat nasib kesusastraan Indonesia yang saban hari kehilangan tempat di hati para penikmatnya. Peran media yang hanya mengekspos sastra dari satu sisi saja malah membuat sastra itu sendiri menjadi hal yang tidak penting untuk diperhatikan. Sejatinya, sastra itu hidup di kepala anak adam dan hawa, mereka menjadi pelipur lara yang ampuh dan sebagai media ekapisme. Jadikanlah sastra untuk kebutuhan rohani di tengah proses dekadensi menuju dehumanisasi yang kian merajalela dalam kehidupan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar