Sabtu, 26 Mei 2012
ngaco
setelah perjalanan yang panjang, akhirnya aku berhenti di antara ngarai dan curug yang tak berpenghuni. hanya kicauan burung, dan deru air yang terdengar, atau sesekali suara dedahanan yang menggesek satu sama lainnya. sudah banyak pepohonan dan binatang hutan yang sudah aku temui, tapi belum juga satu orang pun yang aku lihat di dalam hutan ini. apa kah mereka sedang tertidur dalam kebebasan mimpinya pada ruang-ruang semesta tanpa matra. atau kah mungkin mereka sedang bergurau dengan angan yang kian waktu kian menyeramkan. tiba-tiba ada suara memangilku dari dasar lembah " hai anak muda, sedang apa kau di sini? ini tempat kami para ciptaan ilahi yang senang akan ketenangan dan rindu akan kesempurnaan, kau tak sebaiknya di sini, kau manusia yang sempurna, yang memiliki segala keinginan dan kemampuan, dan bahagia dengan kesempurnaan yang sudah kau miliki ". aku pun menyahutinya, " maafkan aku wahai suara alam, aku di sini bukan untuk menghancurkan segala anugerah tuhan padamu, aku kemari karena sebuah pertanyaan yang tak kunjung habis kupikirkan jika di dalam kebisingan dosa dan dendam, aku mencari ketenangan dari apa yang harus aku selesaikan dan aku cari sebagai arti yang hakiki dariku, manusia. sungguh bahagianyalah engkau dibandingkan dengan manusia, aku iri padamu". suara itu kemudian datang lagi, " hai anak muda, buanglah pikiranmu itu, jangan kau bebani langkahmu dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa kau jawab walau di mana pun adanya. engkau adalah kesempurnaan yang diimpikan para iblis dan malaikat serta segala yang ada dalam naungan-Nya... kau adalah kerinduan kami. perlahan suara itu menghilang ditelan gelapnya ngarai dan gemuruh curug. sangat lembut, selembut angin yang membelai batang-batang pinus, sehalus air menjamah bunga teratai, lalu merekah di lingsir senja. aku pun tengadah menatap cakrawala. apakah ini yang dimaksud dengan kesempurnaan, kerinduan dari apa yang diinginkan, keinginan dari apa yang dirindukan menjadi kesempurnaan. untuk waktu yang lama, aku tertidur dan tak akan terbangun, biar dalam mimpi aku wujudkan kerinduan itu sendiri, telungkup pada sebuah bukit yang puncaknya berisi arti-arti selama ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar