Minggu, 02 Desember 2012

"Tuhan adalah Aku" Kata tetanggaMu

"Sebagaimana beberapa agama dunia tertentu mengatakan bahwa orang yang tidak memercayai adanya Tuhan adalah ateis, kami pun mengatakan bahwa seseorang yang tidak memercayai dirinya sendiri adalah ateis. Tidak percaya pada kemuliaan jiwanya sendiri itulah yang kami sebut ateis."

*Swami Vivekenanda - mistisme Hindu dari India

"Cintailah tentanggamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri sebab engkau adalah tetanggamu. Ilusilah yang membuatmu berpikir bahwa tetanggamu adalah seseorang yang lain darimu."

*Sarvepalli Radhakrishnan - Mantan presiden India

Dua pemikiran di atas saya ambil sebagai perwakilan dari pemikiran-pemikiran lain yang berasal dari kepercayaan yang lain pula. Pemikiran tersebut memiliki arti yang dalam. Seorang ahli mistik merasakan kedekatan tanpa jarak sehingga melebur menjadi satu dengan Tuhan.  Mistisme Barat (Kristen dan Islam) dan Timur (Hindu,Budha,dan agama China)  pasti mengakui bahwa dirinya telah mengalami pertemuan dengan Tuhan yang sifatnya pribadi. Pemikiran-pemikiran dari masing-masing agama memang berbeda dalam pengungkapan. Namun, sama dalam intisari yang dituju. Tuhan ada di mana-mana. Tuhan ialah Aku dan Kamu. Tuhan ialah alam semesta. dan manusia adalah mikrokosmos yang merepresentasikan bentuk tersebut dalam ruh kosmik. ahli-ahli mistisme biasanya mengatakan, bahwa ia telah mengalami penyatuan dengan Tuhan. Di Indonesia sendiri, peristiwa semacam itu disebut "manunggaling kawula gusti" yaitu menyatunya manusia dengan Tuhan.
Memang, jika kita memahami dalam perspektif agama yang masing-masing kita anut, maka hal itu menjadi kontradiksi. tetapi, ada etika yang dapat diambil dari adagium masing-masing ajaran. jika kita mampu mengimplementasikan ke dunia nyata , maka toleransi menjadi kebiasaan yang membudaya. tidak ada manusia yang saling bunuh atau menyakiti sesamanya. karena yang ia lakukan pada orang lain, hakikatnya ia lakukan pula pada dirinya sendiri. adagium-adagium tersebut juga memberikan nilai positif dalam pengembangan kepribadian kita. Penekanan terhadap kepercayaan terhadap diri sendirilah yang harus dijadikan pegangan. Para ahli mistis menempatkan kemuliaan manusia menjadi suatu yang primordial dalam kepercayaan. ahli-ahli mistime memang hadir dengan adagium yang tidak dapat diterima oleh logika manusia awam, karena pengetahuan mereka didapatkan secara empirik yang bersifat pribadi. Kita sebagai orang-orang yang lelap dalam dogma sebaiknya jangan tidak acuh dengan hal-hal seperti ini, walaupun memang memberikan penalaran yang negatif tetang ke-Tuhanan. Fleksibelitas dalam menentukan pola pikir dan paradigma diperlukan dalam memahami dan memaknai adagium-adagium tersebut. Hal-hal yang sifatnya transenden sebaiknya memang dipahami dengan perspektif yang luas, karena jika tidak, perasaan yang muncul adalah  kesal atau acuh sebab tak sesuai dengan kepercayaan yang masing-masing kita anut atau mungkin terpengaruh secara berlebih hingga menjadi ateis atau agnostik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar