bilang pada bapakku, sore ini aku pergi ke sawah. memotong nasib dan menanam angin. sebelum badai. aku tau, bapakku dulu juga begitu. tapi dia gagal, yang ia tanam sia-sia. dia lupa melumuri paritnya dengan mantra. padahal, gurunya sudah memberi mantra bertahun-tahun lalu untuk dihapal. tapi dia lengah. sekarang giliranku. biar, bapak tidur saja. di atas bantal yang aku isi mimpi.
" nak, mantramu belum sempurna!" igau bapak .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar