Kamis, 28 Maret 2013

Kirana



Dari indraloka
seorang pemuda cegak turun ke bumantara. Memakai sepur beroda bara. Di atas langit yang rinai tanpa guntur atau gerombolan paksi yang lalu lalang, ia terus fokus. Bianglala kali itu berwarna ahmar dan asfar, sebuah pralambang kemenangan. Hawa terasa banal. Keyakinan menebal. Takdir yang membawanya turun jauh ke dasar takbersuluh. Namun, Sang kala bukan dukun yang dapat mengubah arah dan nama. Yang datang tidak bersautan. Yang pulang lupa berpamitan. Sang Kala berjalan tanpa mata. Pemuda itu tetap melingsir menyisir udara. Dan segala penjuru adalah tujuan. Sebuah perjalanan panjang tidak membutuhkan kepastian. Cukup sepotong kemauan dari mimpi-mimpi kopong. Sampai akhirnya diputuskan berhenti pada alur yang mengubur.
"Kirana di tanah suralaya. aku datang kenanga. Dari garis yang tidak bertitik. Ke dalam api eros dan kama. bakar, bakar amor ke empat mata angin. Dari segala anomali dan pencapaian. lalu sisakan celah untuk kita mawasdiri di tepi penghabisan.
Sebelum dan sesudah arti menjadi perburuan."

1 komentar: