Bumi sudah geram rupanya melihat tingkahku yang diam
seperti biasa. Dia mulai gusar meniti waktu dan memandangiku dengan tatapannya
yang nanar. Pikirku ini bukan urusannya,ini urusanku cukup. Sebenarnya bukannya
tidak peduli dengan keadaan dan keinginan yang selama ini kami impikan,tetapi
segalanya berubah menjadi berat untuk dipraktekan,hanya benak yang sibuk
memikirkan kesana kemari hingga mentok tertahan kakunya raga yang bertahan
dengan angkuh. Kamu mungkin tahu atau pernah merasakan karena ini hal yang
manusiawi, Ketika jiwa dan raga mulai tak sepaham dengan jalan yang mereka
pilih. Padahal hakikatnya mereka saling berkesinambungan dalam setiap langkah
yang kita ambil untuk menentukan besok,lusa dan seterusnya. Apa aku harus
selalu diam menjadi pihak yang netral untuk keduanya. Entahlah .
Esok hari ketika masa itu menyapa dan aku belum
terjaga jangan tanya kenapa aku gagap untuk menyambutnya. Ini ulah kalian
berdua . jangan salahkan aku sebagai penyebab kegagalan diatas keinginan kita.
Aku Cuma bisa merunut jalan setapak yang setiap harinya berubah latar dan
temaram . apa aku harus memiliki kasta brahmana untuk memimpin kalian menjadi
satu kesatuan?sepertinya mustahil, karena kasta yang aku punya hanya sudra . kastaku
cuma cukup membuat kalian berdua diam dan tidak melakukan hal apa-apa. Membuat
segalanya bisu ketika adzan maghrib lantang diperdengarkan. Izinkan aku
mengucap syair jika semua ini berimbas untuk kita sebagai satu kesatuan,untuk
kita sebagai bahan olok-olokan bumi bijak.
Terkutuklah kita untuk
asa bersama.
Binasahkan saja
segala langkah terang untuk mereka.
Agar mereka tahu
rasanya menjadi buta.
agar kita tahu
semburat senja yang kelam tanpa jingga.
jika segala naluri
itu semu.
cukup beri kami
tangis dan caci bumiku…
aku enggan
menyampaikan padanya.
Alirkan saja doanya
sederas air mata kami saat ini.
Sebagai penghias
ruang gelap yang kami ikat dan kami dekap.
Atau elegi yang membabi buta dalam rintih asa yang
bias.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar