Senin, 26 Maret 2012

Rama


Namanya Rama. Seorang pemuda bertubuh sedang,berkulit sawo matang dan berparas tampan. Dia tak punya bapak,tak punya ibu, atau saudara. Dia menganggap dirinya sebatang kara sejak mengerti apa itu kehidupan. Suaranya yang lantang adalah senjata dalam kesunyian. Matanya yang tajam seperti belati tentara amerika yang siap perang. Siap menusuk musuh yang lengah dan lantak. Hidup yang ia miliki adalah perjuangan. Pengorbanan untuk kemerdekaan yang hakiki. Bukan berdiri pada pijak sesama dan pasrah menunggu waktu memakan asa serta doa.
Waktu itu hujan datang tanpa sapa. Di bawah pohon belimbing yang sedang subur,dia meneduh. Sepeda ontelnya diletakkan beriringan dengan semak. hanya suara hujan dan teriakan tukang parkir yang ia dengar, tanpa gemuruh klakson kendaraan yang riuh. Sebentar ia mengamati tukang parkir yang sedang melakukan tugas dengan sigap dan suara memecah kerumunan air langit. “ terus,terus,stop,ambil kiri,banting kanan,maju sedikit,ya cukup” teriak tukang parkir. Rama berpaling ke sisi lain. Dia melihat iringan anak kecil yang berlarian tanpa pakaian di tengah hujan. Anak-anak itu melepas canda tanpa arah. Tanpa paksa,dan mungkin tanpa pikiran akan dimarahi oleh orang tua mereka, karena bermain di tengah hujan yang deras. Kedua peristiwa tersebut seperti lingkaran yang terputus dan membuat lingkaran yang baru dan utuh. Rama menerawang dan menelaah jauh. Apa mungkin filosofi kehidupan bersemayam pada peristiwa sepele dan mungkin menggelikan jika disambungkan dengan logika manusia. “ antara aturan dan kebebasan seperti padu. Pengendara tersebut menuruti apa yang di perintah tukang parkir tanpa protes,meski strata sosial dirinya mungkin jauh lebih tinggi,tapi ia menurut untuk diatur.dan sekumpulan bocah tadi,mengapa mereka tertawa riang? Padahal mereka sudah tau ganjaran yang didapat karena bermain hujan! ” bisiknya dalam hati. Lama ia berfilsafat di bawah pohon belimbing yang rindang tanpa buah. Tanpa sadar, hujanpun reda dan hanya meninggalkan titik-titik bening pada setiap benda yang ia anggap rela dibasuh kesucian.
                                                            ***********
2 jam sudah sepeda dikayuh rama tanpa henti. Sepanjang perjalanan ia hanya mencari apa arti dari kebebasan. Setiap peristiwa yang ia anggap memiliki filosofi,ia catat dalam buku harian dan otaknya yang haus akan kenangan samar. Hidupnya adalah embun yang siap menetes kemana saja,ke setiap pori-pori kehidupan. Perjalanan panjangnya adalah untuk menuntaskan dan menjawab pertanyaan tentang keutuhan. Jika ia boleh memilih, ia akan memilih untuk tidak dilahirkan atau mati muda dan menetap di surga loka. Melihat matahari dari ufuk timur dan barat. Lalu menyapa embun yang baru lahir dari tetes kehidupan tanpa arah. Dan abadi.
Cinta…yang ia sebut cinta adalah kepekaan terhadap orang di sekitarnya. Bukan karena prestise, atau pun wanita. Orang tua? Dia tidak ingin mengenal lebih jauh dengan kata itu. Yang ia tau orang tua itu hanya perantara tuhan untuk melahirkannya dan memberi nasi. Tanpa tawa,tanpa peluk,dan tanpa cinta.
 Cinta hanya membuat otaknya menjadi rancu untuk berpikir dan bertidak. Yang ia asah selama ini hanya kepekaan. Tanpa rasa,tanpa cinta. Dengan begitu,kebebasan yang ia impikan akan utuh dan sempurna.

Sejak peristiwa masa silam itu rama mengayuh sepedanya tanpa arah. Yang dia butuh hanya filosofi kehidupan yang membuat dirinya sempurna. Membuat dirinya mengenal siapa alam. Peristiwa yang sudah lama ia lupakan. dan lenyap bersama logika dalam kesunyian.

******

Hari ini15 juni 1999. Terakhir pendaftaran SD karya ditutup. Sekolah dasar ini termasuk sekolah yang diperuntukkan bagi orang menengah kebawah. Rata-rata muridnya berasal dari kalangan pedagang. Dari usaha menengah hingga pedagang asongan. Guru-guru yang mengajar di sana diberi upah seikhlasnya,dan memang mereka lebih seperti sukarelawan yang siap berkorban. Padahal pendidikan dari guru-guru tersebut hampir semua telah menamatkan bangku SMA.
 “ Bu,Pak,hari ini aku daftar SD yah ? “ tanya rama.
“ Ibu sibuk nyari duit,sama bapak aja sana” sahut ibu sambil merapikan dagangannya.
“Alah,bapak juga sibuk,ibu sama bapak sibuk nyari duit buat makan kita,kamu daftar sendiri aja ya ram” sahut bapak yang sedari tadi sibuk menghitung penghasilannya.
 Rama hanya bisa diam. Sudah tahun ketiga sejak permintaan pertamanya masuk sekolah tapi belum direalisasikan. Yang ia lihat hanya sebuah kesibukan tanpa kepekaan. Yang ia dengar hanya sahutan tanpa asa dan doa. Tak mengerti apa yang harus dilakukan lagi,rama pergi berlari keluar. Menuju bangunan kosong yang dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan yang ia buat. Selama ini ia belajar membaca,menulis,dan memahami melalui buku-buku yang ada di rumahnya. Buku-buku bekas dagangan bapak yang berserakan di rumah. Setiap harinya ia mempraktekan segalanya di tembok bangunan tersebut. Mulai dari menulis abjad,angka, huruf arab dan membaca ilmu pengetahuan dengan mengeja. Tak ada yang mengetahui jika rama belajar segalanya di ruangan tersebut. Hanya kelelawar yang bergelantungan di langit-langit bangunan ,yang setia memperhatikan perilaku rama ketika berada di ruangan tersebut. Dengan itu rama merasa tidak sendiri. Dia tahu kalau alam peduli pada penghuninya. Hari-hari kecilnya diisi dengan bercerita dan tertawa bersama langit atau pun matahari. Dari langit ia belajar melukis keadaan yang tentram. Berarak silih berganti tanpa bosan.
“ awan, aku ingin menjadi seperti kamu. Berjalan mengiring matahari dan gelap. Aku ingin menjadi kamu karena warnamu hanya ada tiga. Putih,jingga,dan hitam. Dari putih aku belajar kebahagiaan dan kebaikan. Dari jingga aku belajar perubahan. Karena dengan berubah aku bisa jadi lebih baik jika saat ini buruk. Dan dari hitam aku belajar tentang kesedihan. Dan perpisahan. lalu menuju keabadian ” ucap rama dengan lantang. Semesta seperti riuh mendengar kata-kata bocah berumur 10 tahun ini. Dia menjadi dewasa tanpa tahap. Tak ada ayunan,tak ada masa kecil di dalam otaknya. Yang ia mengerti hanya bernafas untuk hidup dan berubah.
*********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar