Aku tak ingin dan tak akan melakukan apa-apa. Saat
semesta mulai terkulai ,dan langit berhias purnama jumat , di temani gontai
pohon angsana merangkak tunduk pada kesunyian malam ,kita masih saling menatap.
Kau tersenyum lirih. Kemudian tanganmu mengikatku dengan rantai karma yang di
lapisi duri-duri kesumat. Aku tak akan melawan. Matamu adalah kejora yang sudah
tertutup lara,dan jiwamu adalah bidari penuh kesedihan. Aku akan diam. Lalu kau
menyeretku ke dalam lubang yang di dalamnya berisi tangisan malam. Air matamu
menggenang di dalamnya,membuat setengah badanku seperti di hantam air bah. Dan lenyap
untuk sekarang,esok,dan lusa.
Ketika purnama turun dari singasananya,dan burung merpati mulai terlihat untuk mengantar surat,kita masih terpaku. Dan kau melangkah membuka renda. Membiarkan wajahmu bermandikan cahaya suci dari celah jendela. Jiwamu sudah terbebas dari nestapa. Semesta seperti mengiring dengan aura putih untukmu. Untuk pijakmu yang kokoh tanpa gontai sedikit dalam melangkah. Lubang itu sekarang milikku.
Aku merasakannya . lubang ini kian hari kian
dalam.Lantainya seperti menarik ruh ku
untuk masuk menjadi bagian sempurna dalam kesehariannya. Aku moronta-ronta
dengan setengah tubuh yang aku punya saat ini. Dan tanganku menggenggam tambang
dari permukaan lubang. Tambang itu seperti meraihku,menarik seluruh tubuh dan
ruh ku dari dasar lubang. Aku menengadah melihat sosok putih. Seperti cahaya
bulan yang di dalamnya berisi bidadari bermandikan kesucian Tuhan. dan aku
terbebas.
Cahaya itu semakin terang ketika aku menatapnya. Dan terdengar suara gaib berbisik di telingaku “ menengadahlah kamu tanpa jemu. Bersyukurlah ketika semesta memberimu dia. Langkahmu adalah jurang yang tak berdasar. Dan ucapmu ialah ruang yang tiap hari berubah latar dan temaram. Pribadinya akan menjadi kebanggaan alam dan isinya. Lubang itu sejatinya milikmu. Kau yang membuatnya. Kau yang menjerumuskannya. Dan kau yang tenggelam di dalamnya. Dendam yang kau buat tidak akan menang melawan kebijaksanaan yang ia punya. Keindahan yang kau inginkan hakikatnya adalah keseimbangan,keseimbangan antara kebahagiaan dan penderitaan,antara kegembiraan dan kedukaan, antara harapan dan kenyataan. Keindahan itu adalah matahari yang tahu diri, menarik cahayanya dari ladang-ladang sawah, yang diwaktu malam ingin menikmati cahaya bulan. Dalam cinta, kebahagiaan dan penderitaan itu bersatu, lebur menjadi kehidupan. Kau terlalu sering bermain dengan masa esok,dan gagap ketika segalanya terjadi.” Suara gaib itu pun hilang,entah.
Malam tak mau beranjak. Keheningan berteriak. Dalam sepi aku berjalan mendekati jendela. Purnama seperti tersenyum ketika aku melangkah. Kejora bersinar anggun setelah berhasil melawan mendung yang sejak kemarin menyelimuti langitnya. Jiwaku seperti terbang bersama awan,melayang dengan anginnya yang sejuk tanpa dendam,menerobos dimensi penyesalan. Dan mengubahku menjadi binatang malam bersayap.
Aku ingin datang kepadamu seperti nyamuk kecil yang tersesat. Hinggap ditelinga dan membisikkan aku rindu. Lalu kau bebas menamparku. Menyisakan darah merah yang esok pagi akan kau cuci lalu luntur. Aku meluntur.
Suka sama bagian yang terakhir,
BalasHapus"Aku ingin datang kepadamu seperti nyamuk kecil yang tersesat. Hinggap ditelinga dan membisikkan aku rindu. Lalu kau bebas menamparku. Menyisakan darah merah yang esok pagi akan kau cuci lalu luntur. Aku meluntur. "
yang bagian itu tulisan temen gua put gua kutip HAHA
BalasHapus