YANG FANA ADALAH WAKTU
Yang fana adalah waktu. Kita abadi :
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari
Kita lupa untuk apa.
“Tapi,
Yang fana adalah waktu, bukan?”
Tanyamu. Kita abadi.
(1978)
pada suatu hari nanti
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari
PERAHU KERTAS
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau
layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju
lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang
lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni
di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu
yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit.”
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Metamorfosis
ada yang sedang menanggalkan
kata-kata yang satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin
dan membuatmu bertanya
tubuh siapakah gerangan
yang kukenakan ini
ada yang sedang diam-diam
menulis riwayat hidupmu
menimbang-nimbang hari lahirmu
mereka-reka sebab-sebab kematianmu
ada yang sedang diam-diam
berubah menjadi dirimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar