Minggu, 30 September 2012

menggumam

malam ini kuhabiskan dengan menulis. menulis kegiatan, menulis pikiran, dan menulis waktu. padahal, aku pun tidak tahu dan tidak mengerti apa yang akan dan sedang aku tulis . cuma kegelisahan yang mendorong nalarku untuk berpikir tentang hal yang ada dan tidak ada. aneh memang, di saat semuanya berpikir dengan rasionalis, aku malah sengaja menjerumuskan akal ke dalam surealis yang hanya menegaskan kejadian-kejadian di luar batas dan meresahkan seluruh peluh untuk semua laku. atau mungkin ini semua cuma pengalihan wahana dari nyata menjadi maya. entahlah. yang aku ingini sekarang hanya memejamkan ke dua bola mata dan tenggelam di alam bawah sadar manusia. dan kemudian, jariku mulai bekerja secara impulsif, sesuai intuisi, tanpa memerhatikan pertimbangan nalar yang kadang merusak estetika kata.

baris pertama aku mulai kata "tindakan". alam mimpiku mulai merunut simpul satu per satu. menerka-nerka apa yang telah dilihat, dirasa, dan dilakukan setiap awal dan setiap akhirnya.
diam. 
tidak ada lagi yang dapat ditulis di baris ini. alam bawah sadar telah menafikan segalanya, mungkin karena waktu yang  diminta terlalu banyak. atau tidak ada kegiatan yang aku lakukan selama bermimpi di dunia . lalu apa yang selama ini aku kerjakan? Melamun mungkin? Aku suka melamun. memerhatikan jarum jam dan mendengar dengung kesunyian. hanya itu yang membuat aku merasa ada dan nyata. 

setelah terhenti beberapa saat, aku mulai kembali di baris ke dua dengan kata " pikiran".sarafku mengeras, akarnya mulai terlihat di sisi wajah yang kian memerah warnanya. aku berusaha untuk berpikir terhadap apa pun yang telah aku pikirkan. tapi hasilnya nihil, aku tidak bisa berpikir tentang hal-hal yang harus dipikirkan. Berpikir menurutku itu pekerjaan yang membosankan dan menghabiskan tenaga. cuma manusia tiruan yang berpikir memeras otak dan sarafnya, dan hasilnya pun juga sedikit, cuma memecahkan satu persoalan saja. dampak yang diberikan tidak berarti apa-apa dalam perasaan, karena perasaan itu tidak berteman dengan pemikiran. perasaan itu tinggal dalam kesadaran, bukan kewajaran, bukan juga pemahaman. Hanya dengan merasai, kita dapat paham tentang perkara yang penting dan tidak penting. aku berpikir maka aku ada, itu kiasan yang sudah habis dimakan jaman. manusia kontemporer adalah manusia yang mampu untuk merasai segala keadaan dengan kepekaan. maka dengan begitulah kita dapat mengerti mengapa ada kekurangan dan kelebihan yang berbeda pada setiap manusia. 

dan pada baris terakhir, aku mencoba untuk menulis "waktu". ini mungkin bagian yang paling mudah, namun juga bagian yang paling sulit untuk dimanifestasikan menjadi kata.
waktu.
aku tidak mengerti apa "waktu" itu berpikir atau merasa. dia berjalan sesuai kehendaknya, tidak ada yang bisa mencegah atau pun menghasutnya untuk tinggal lebih lama atau lebih cepat. waktu adalah jarum yang diam dalam putaran jam, menit, dan detik. ia tidak mengerti harus berhenti di mana. ia tidak tahu berputar sampai kapan dalam benda 360 derajat itu. kalau saja aku bisa berbicara dengan waktu, mungkin aku akan mengajaknya beristirahat, melihat-lihat dunia yang selama ini tidak disadarinya ada dan menengok realita yang bergulir saat ia berjalan menyusuri petikan masa. sayang, aku tidak bisa mengajaknya beristirahat. dia terlalu sibuk dengan rutinitasnya. 
dia telah mati.

setelah semua yang kulewatkan tadi, aku sadar bahwa perasaan dan pemikiran yang ada dalam otakku itu cuma terlintas sesaat, tidak sempat direkam menjadi pengalaman. aku menyerah. sepertinya, semua topik tadi tidak cocok untuk malam ini. Dalam "ketiadaan".
       . 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar