Kamis, 18 Oktober 2012

Bawah sadar dan Sadar


Imajinasi dan logika. Kedua kutub yang memiliki relevansi dalam penyatuan dan penyempurnaan dari sebuah karya atau hasil yang konkret atau pun opini yang bisa ditelaah dan dinikmati khalayak luas. Banyak dari kita tak menyadari bahwa lahirnya suatu kreasi memiliki proses yang cukup rumit.  Fase tersebut dibagi menjadi dua bagian, sadar dan bawah sadar. Dimensi awal terjadi dalam imajinasi. Sebuah tempat bayang-bayang dari yang tak terbatas. Imajinasi merupakan hal yang masih mentah untuk dijadikan penemuan (discovery) atau bisa dikatakan hal yang esensial dari terciptanya suatu kreasi. Seseorang yang sedang mencipta awalnya tinggal di alam bawah sadarnya. Melayang bersama ribuan atau mungkin jutaan bahan mentah dari ide yang keluar nantinya. Setelah mengalami proses tersebut, timbullah gejala-gejala yang mengisyaratkan bahwa itulah yang akan dimanifestasikan menjadi sebuah penemuan. Gejala itu kemudian di olah dalam dunia sadar manusia yang berpusat di logika yang bersifat empirik. Di sinilah peran logika, yaitu menjadi alat kontrol dari apa yang tak terbatas, merekam dan menerjemahkannya ke pikiran yang bisa diimplementasikan ke dunia nyata, karena kreatifitas adalah kerjasama antara sadar dan bawah sadar, pola dan struktur, pikiran dan benda.  Kualitas dari kreasi tersebut memang bergantung pada pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki oleh sang empunya. Namun, sesuatu yang lepas dari alam bawah sadar terkadang membutuhkan kerangka pikir yang baru, hal ini disebabkan  “sesuatu” itu tidak dapat ditangkap sepenuhnya oleh logika yang akhirnya membludak dan menghasilkan entitas tak disangka.
Di samping itu, ada beberapa kreasi yang tidak membutuhkan sumber untuk penyempurnaannya. Pelukis dan sastrawan Jeihan misalnya, ia mencipta didasari oleh kontemplasi. Perenungan dari segala yang terjadi di sekitarnya atau di luar dirinya. Ia mengatakan bahwa sumber-sumber, seperti buku dan media lainnya bisa merusak kealamian pemikiran. Yang berarti, intervensi luar menjadi objek perusak dari kemurnian tersebut. Pengetahuan seperti ini bisa dikatakan gnosis sanguinis, yaitu pengetahuan sedarah, turunan dari apa yang terdahulu lalu mengalir dalam darah. Tahap ini disebut kosong. Sebuah siklus yang tak pernah berhenti. Dari kosong ini muncullah mind,will, and power (kehendak, pikiran, dan perbuatan). Unsur kosong adalah fleksibelitas dari perpindahan dan perubahan segala yang ada. Dengan demikian, kosong merupakan inti dari semua yang ada dan tidak ada, yang belum kita ketahui. Estetika logika terkandung dari kemurnian pikiran tersebut. Pada dasarnya, sadar dan tidak sadar menyatu dalam kesadaran manusia itu sendiri, dikatakan tidak sadar karena kita belum mengetahui hal tersebut. Hal itu bersifat sementara. Jadi, ada dan tidak ada itu tetap ada, hanya belum menjadi pengetahuan kesadaran kita.
Sebenarnya, ada dua perbedaan yang bergulir saat ini. Perbedaan tersebut yang timbul di kerangka pikir manusia jaman dahulu dan sekarang, yang sudah terkontaminasi dengan modernisme. Dahulu, alam bawah sadar merupakan sumber dari apa yang ingin dan akan untuk diketahui. Dengan menekankan kekosongan yang ada, mereka belajar dari apa yang disebut tanda. Namun, sekarang ketika rasionalitas dan logika yang menjadi pertimbangan utama untuk segala hal, pemikiran bawah sadar itu pun kerap menghilang dari eksistensinya. Padahal, ada beberapa hal yang memang tidak bisa diselesaikan dengan rasionalitas, yang malah membuat perihal tersebut berujung dengan disinformasi atau kesalahpahaman. Hal itu bersifat sakral. Nilai-nilai dari perihal tersebut hanya dapat diselesaikan dengan kerangka pikir bawah sadar. Dengan rasa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar