Imajinasi
dan logika. Kedua kutub yang memiliki relevansi dalam penyatuan dan
penyempurnaan dari sebuah karya atau hasil yang konkret atau pun opini yang
bisa ditelaah dan dinikmati khalayak luas. Banyak dari kita tak menyadari bahwa
lahirnya suatu kreasi memiliki proses yang cukup rumit. Fase tersebut
dibagi menjadi dua bagian, sadar dan bawah sadar. Dimensi awal terjadi dalam
imajinasi. Sebuah tempat bayang-bayang dari yang tak terbatas. Imajinasi
merupakan hal yang masih mentah untuk dijadikan penemuan (discovery) atau bisa
dikatakan hal yang esensial dari terciptanya suatu kreasi. Seseorang yang
sedang mencipta awalnya tinggal di alam bawah sadarnya. Melayang bersama ribuan
atau mungkin jutaan bahan mentah dari ide yang keluar nantinya. Setelah mengalami
proses tersebut, timbullah gejala-gejala yang mengisyaratkan bahwa itulah yang
akan dimanifestasikan menjadi sebuah penemuan. Gejala itu kemudian di olah
dalam dunia sadar manusia yang berpusat di logika yang bersifat empirik. Di
sinilah peran logika, yaitu menjadi alat kontrol dari apa yang tak terbatas,
merekam dan menerjemahkannya ke pikiran yang bisa diimplementasikan ke dunia
nyata, karena kreatifitas adalah kerjasama antara sadar dan bawah sadar, pola
dan struktur, pikiran dan benda. Kualitas dari kreasi tersebut memang
bergantung pada pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki oleh
sang empunya. Namun, sesuatu yang lepas dari alam bawah sadar terkadang membutuhkan
kerangka pikir yang baru, hal ini disebabkan “sesuatu” itu tidak dapat ditangkap sepenuhnya
oleh logika yang akhirnya membludak dan menghasilkan entitas tak disangka.
Di
samping itu, ada beberapa kreasi yang tidak membutuhkan sumber untuk
penyempurnaannya. Pelukis dan sastrawan Jeihan misalnya, ia mencipta didasari
oleh kontemplasi. Perenungan dari segala yang terjadi di sekitarnya atau di
luar dirinya. Ia mengatakan bahwa sumber-sumber, seperti buku dan media lainnya
bisa merusak kealamian pemikiran. Yang berarti, intervensi luar menjadi objek
perusak dari kemurnian tersebut. Pengetahuan seperti ini bisa dikatakan gnosis
sanguinis, yaitu pengetahuan sedarah, turunan dari apa yang terdahulu lalu
mengalir dalam darah. Tahap ini disebut kosong. Sebuah siklus yang
tak pernah berhenti. Dari kosong ini muncullah mind,will, and power (kehendak,
pikiran, dan perbuatan). Unsur kosong adalah fleksibelitas dari perpindahan dan
perubahan segala yang ada. Dengan demikian, kosong merupakan inti dari semua
yang ada dan tidak ada, yang belum kita ketahui. Estetika logika terkandung
dari kemurnian pikiran tersebut. Pada dasarnya, sadar dan tidak sadar menyatu
dalam kesadaran manusia itu sendiri, dikatakan tidak sadar karena kita belum
mengetahui hal tersebut. Hal itu bersifat sementara. Jadi, ada dan tidak ada
itu tetap ada, hanya belum menjadi pengetahuan kesadaran kita.
Sebenarnya,
ada dua perbedaan yang bergulir saat ini. Perbedaan tersebut yang timbul di
kerangka pikir manusia jaman dahulu dan sekarang, yang sudah terkontaminasi
dengan modernisme. Dahulu, alam bawah sadar merupakan sumber dari apa yang
ingin dan akan untuk diketahui. Dengan menekankan kekosongan yang ada, mereka
belajar dari apa yang disebut tanda. Namun, sekarang ketika rasionalitas dan
logika yang menjadi pertimbangan utama untuk segala hal, pemikiran bawah sadar
itu pun kerap menghilang dari eksistensinya. Padahal, ada beberapa hal yang
memang tidak bisa diselesaikan dengan rasionalitas, yang malah membuat perihal
tersebut berujung dengan disinformasi atau kesalahpahaman. Hal itu bersifat
sakral. Nilai-nilai dari perihal tersebut hanya dapat diselesaikan dengan
kerangka pikir bawah sadar. Dengan rasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar