Rabu, 19 September 2012

Menguning dalam Hening


 Titik ini adalah sumbu yang jatuh dari surgaloka menuju semesta. Dulu ketika semua belum dapat diingat dan dimengerti, segalanya masih terlihat sama. Tak ada kemunafikan,tak ada kekeliruan, dan tak ada kefasikan. Hanya eksistensi tangis dan tawa sebagai dualisme awal konsep pembuatannya. Ini semua permainan yang memakan zaman. Dan kita terjebak  dalam jagad yang penuh dengan tanda. Kepekaan yang kadang menjadi cenayang untuk setiap waktu laku, tidak akan selalu merasa bahwa hal yang ada dan tidak ada menjadi sesuatu yang marginal. Mungkin Tuhan “enggan” membenarkan ini semua. Yang Ia benarkan cuma keheningan waktu dan pikiran untuk lancarnya segala urusan.
Keheningan datang bersama kenangan, menjamah pikiran lalu telungkup di sisi kewajaran. Keheningan merupakan dunia yang Tuhan rancang untuk makhluk yang perlu belajar menghargai kepekaan. hening bukan berarti sendiri. Hening bukan berarti sepi. Hening hanya lilin kefanaan di tanah loka sementara.

“Hari ini ia menguning dalam hening”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar