Titik ini adalah sumbu yang jatuh
dari surgaloka menuju semesta. Dulu ketika semua belum dapat diingat dan
dimengerti, segalanya masih terlihat sama. Tak ada kemunafikan,tak ada
kekeliruan, dan tak ada kefasikan. Hanya eksistensi tangis dan tawa sebagai
dualisme awal konsep pembuatannya. Ini semua permainan yang memakan zaman. Dan kita
terjebak dalam jagad yang penuh dengan
tanda. Kepekaan yang kadang menjadi cenayang untuk setiap waktu laku, tidak
akan selalu merasa bahwa hal yang ada dan tidak ada menjadi sesuatu yang
marginal. Mungkin Tuhan “enggan” membenarkan ini semua. Yang Ia benarkan cuma
keheningan waktu dan pikiran untuk lancarnya segala urusan.
Keheningan datang bersama kenangan,
menjamah pikiran lalu telungkup di sisi kewajaran. Keheningan merupakan dunia
yang Tuhan rancang untuk makhluk yang perlu belajar menghargai kepekaan. hening
bukan berarti sendiri. Hening bukan berarti sepi. Hening hanya lilin kefanaan
di tanah loka sementara.
“Hari ini ia menguning dalam
hening”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar