Hari ini hujan turun deras membasahi tanah-tanah yang retak oleh terik matahari. wewangiannya menelusup ke lubang-lubang yang terbuka tanpa kesengajaan. entah ramuan apa yang dilarutkan di dalamnya, hingga mampu membuat makhluk dunia selalu rindu detik pertama rintik lingsir. aku selalu suka saat-saat ini. saat di mana aku bisa berkontemplasi untuk segala ihwal.
Kata orang rasionalis, hujan turun karena ada uap-uap air yang naik dari laut menuju awan, lalu tumpah ruah ke darat. Namun, orang awam menyebut hujan turun karena Tuhan kasihan pada makhluknya yang kering oleh terik matahari. Aku bukan orang yang setuju terhadap keduanya. aku menganggap hujan adalah fase di mana manusia bisa tenggelam dalam suara dan aroma yang memagut kesadaran. Hujan membawa sesuatu menuju sesuatu yang guyub. Gatra-gatra pemisah antara realis menuju impresi untuk waktu sesaat. Setidaknya memberikan jeda berpikir.
Sadarkah kalian kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir?
Berpikir adalah hal yang membosankan menurutku. apakah dengan berpikir manusia itu hidup? Tidak. eksistensinyalah yang menjamin semuanya. Dari eksistensi tersebut muncullah nilai yang membedakan baik dan buruk. tergantung melalui apa seorang mendapatkan eksistensinya, baik atau buruk.
Masa ini memang kerap disimbolkan sebagai masa rasionalis, di mana logika menjadi sumber utama bagi setiap persoalan atau penilaian. Masa yang angkuh. Paham-paham modernisme memulai ini semua. Mereka membuat kebenaran universal di mana kesadaran menjadi tonggak utama bagi manusia yang konkret dan merdeka.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar