Rabu, 21 November 2012

Seruling Kesunyian


"Ketika kutiup seruling pada senja yang sendu itu mega-mega berarak menyibak waktu dan langit yang masih keemasan terkoyak sehingga pada semesta itu kulihat bibirmu yang tipis tersenyum begitu dingin begitu jauh yang segera memudar dalam bayangan burung-burung yang mengepakan sayapnya melintas ruang meninggalkan semacam teriakan semacam jeritan supaya jangan dtinggalkan sendirian menjelang malam yang kelam yang hitam yang tanpa ampun menggelapkan perasaan.
Daun-daun berguguran seperti waktu yang merobek tanggal pada kalender yang berterbangan di semesta ruang dan menguning di antara bintang yang cahayanya merambat berabad-abad dan menderu sepanjang jalan yang terus-menerus menguap dalam fatamorgana seperti segelas anggur yang kuguyurkan ke tubuhmu dan kujilati kembali dengan seribu angan-angan yang mendesah-desah seperti ombak pada pantai itu tempat bayang-bayangmu berjalan diam-diam dengan langkah terseret perlahan-lahan di antara kerang yang berkilatan di bawah permukaan.
Kutiup serulingku di tepian angin yang menggerakkan pemandangan dari padang ke padang dari jurang ke jurang dari hutan yang satu ke hutan yang terbakar yang asapnya membumbung menggelapkan langit menjelma kota-kota yang riuh rendah hiruk pikuk menebarkan cahaya listrik yang menyilaukan setiap mata yang sudah lama berkaca-kaca dalam kedudukan yang tetes air matanya menitik seperti hujan membanjiri selokan dan kanal-kanal sehingga perahu yang ditambatkan itu mengapung terbawa arus ke masa yang silam membawa sejumlah orang yang melambai-lambai meski tiada akan ada pertolongan di dalam lorong panjang yang hanya berkelok-kelok tanpa kepastian."

Seno Gumira Ajidarma
dalam Saksi Mata



               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar