"Ketika kutiup seruling pada senja yang sendu itu
mega-mega berarak menyibak waktu dan langit yang masih keemasan terkoyak
sehingga pada semesta itu kulihat bibirmu yang tipis tersenyum begitu dingin
begitu jauh yang segera memudar dalam bayangan burung-burung yang mengepakan
sayapnya melintas ruang meninggalkan semacam teriakan semacam jeritan supaya
jangan dtinggalkan sendirian menjelang malam yang kelam yang hitam yang tanpa
ampun menggelapkan perasaan.
Daun-daun berguguran seperti waktu yang merobek tanggal
pada kalender yang berterbangan di semesta ruang dan menguning di antara
bintang yang cahayanya merambat berabad-abad dan menderu sepanjang jalan yang
terus-menerus menguap dalam fatamorgana seperti segelas anggur yang kuguyurkan
ke tubuhmu dan kujilati kembali dengan seribu angan-angan yang mendesah-desah
seperti ombak pada pantai itu tempat bayang-bayangmu berjalan diam-diam dengan
langkah terseret perlahan-lahan di antara kerang yang berkilatan di bawah
permukaan.
Kutiup serulingku di tepian angin yang menggerakkan
pemandangan dari padang ke padang dari jurang ke jurang dari hutan yang satu ke
hutan yang terbakar yang asapnya membumbung menggelapkan langit menjelma
kota-kota yang riuh rendah hiruk pikuk menebarkan cahaya listrik yang
menyilaukan setiap mata yang sudah lama berkaca-kaca dalam kedudukan yang tetes
air matanya menitik seperti hujan membanjiri selokan dan kanal-kanal sehingga
perahu yang ditambatkan itu mengapung terbawa arus ke masa yang silam membawa
sejumlah orang yang melambai-lambai meski tiada akan ada pertolongan di dalam
lorong panjang yang hanya berkelok-kelok tanpa kepastian."
Seno Gumira Ajidarma
dalam Saksi Mata

Tidak ada komentar:
Posting Komentar