Senin, 26 November 2012

Kuasa Mimpi




Tahukah kamu tentang mimpiku semalam? Saat lampu kamar mulai meremang dan rintik hitam berjatuhan di pelupuk mataku bersama langit-langit kamar yang rampak tak nampak, Gelap. Kilatan demi kilatan menumpuk di ambang batas. Membias dalam nirsadar. Ada matahari dan bulan bertengger di sisi ranjang. Ada tetumbuhan bertandak dihembus napas. Dan ada ibu serta bapak yang sibuk bekerja menguras pikiran untuk kebutuhan keluarga. Mereka selalu pergi ketika matahari masih mengedipkan binarnya, dan bulan merajuk karena kantuk. Aku pun masih tidur ketika mereka berangkat.
Aku yang berumur 15 tahun ini terkadang menghabiskan waktu di pelataran rumah. Melihat orang lalu lalang membawa dagangan, atau kadang melihat keranda yang dibopong oleh beberapa orang. Kebetulan rumahku dekat pemakaman umum. Konon, rumahku dulu juga bekas makam zaman Belanda. Aku tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Sesuatu yang tidak ada akan muncul karena kita memikirkannya. Biar saja “mereka” bermain di rumahku, mau bergelantungan kek, lari-larian kek, atau mungkin mengintip aku mandi, ya bodo amat. Toh nantinya  aku sama seperti mereka. Ada namun tidak ada (Ada diidentikkan dengan wujud konkret).  Kematian adalah substansi dari kehidupan.
                                                                        *******
Pukul 08.00 biasanya bibi sudah datang ke rumah, ia langsung menuju dapur dan mencuci semua piring serta gelas. Pembantuku ini sudah 2 tahun bekerja di sini. Dia orang kampung sebelah. Bibi bekerja dengan cepat, kira-kira pukul dua belas atau satu siang ia sudah pulang. Dan tinggal aku sendiri di sini.
Bagiku, kesendirian adalah denging dari keramaian. Kesendirian selalu membawah hal lain. Keheningan yang muncul menjadi suara-suara asing yang memutar lalu menelusup ke lubang-lubang kosong dalam diri manusia. Ia oposisi yang dilupakan atau sengaja ditinggalkan. Manusia selalu takut dengannya.. Paradoksal memang. Esensinya, manusia dilahirkan untuk sendiri. Lalu mati dan dikubur seorang diri. 
Aku mulai belajar memahami kesendirian setelah mimpi waktu itu. Mimpi yang mendekonstruksi  kenyataan menjadi acak dan terbalik. Pepohonan yang berjalan di udara,tanah-tanah yang menjadi ombak, lalu hewan-hewan yang sibuk bermain gaplek dan berdagang. Semua manusia berubah menjadi orang gila. Posisiku saat itu cuma bayang-bayang yang memerhatikan kontradiksi tersebut. Coba bayangkan kalau semua itu terjadi, tidak ada manusia yang pergi ke kantor, tidak ada orang-orang yang mendorong gerobak sayur, dan tidak ada orang yang terbebani. Manusia cuma makhluk yang ditakdirkan untuk tertawa sendiri-sendiri. Mereka fokus dalam pencarian masing-masing. Orang gila selalu punya cara untuk menemukan kebahagian dari eksistensi mereka di dunia. Biar mampus hewan-hewan itu dikunyah nalar dan toleransi, seperti kita sekarang ini di dunia nyata.  

                                                            *******

Pukul 06.00 sore , aku baru selesai masturbasi. Tiba-tiba ada suara wanita mengetuk pintu rumahku.
“ assalamualaikum”
“ walaikumsalam, siapa?”
“ saya, tetangga baru, ingin berkenalan kalau boleh” sahut ibu-ibu itu.
“iya sebentar bu”
Aku bergegas memakai pakaian dan membersihkan segalanya. Lalu mengintip wanita itu dari celah jendela sebelum membukakan pintu rumah. Sambil menguyah sesuatu, ibu itu memandangi rumahku. Cat-catnya yang mulai meluntur mungkin menjadi daya tarik bagi pikiran-pikiran ganjil. Namun, ia tidak mengeluarkan paras ciut ketika memandangi rumah ini, ia malah tersenyum sendiri. Orang gila pikirku. Kebayanya yang mentereng menjelaskan bahwa ia berasal dari Jawa. Rautnya agak tua, mungkin sekitar 50 tahun umurnya.
“ iya, ada apa bu? Ibu dan Bapak sedang tidak ada di rumah “
“ tidak apa-apa de, saya ke sini hanya untuk melihat rumah ini, bolehkah?”
“ lho, memangnya ada apa dengan rumah ini bu?”.
“Tidak ada apa-apa, saya hanya ingin melihat, dulu saya tinggal disini dik”
“ Wah, silakan masuk bu kalau begitu, mari silakan”
 Agak ragu aku sebenarnya, Cuma ya sudahlah bersikap sopan tidak ada salahnya. Lalu ia pun masuk. Matanya menerawang sudut-sudut rumah yang tak terjamah.
“ adik, tidak punya saudara? Tidak bosan ya memangnya tinggal di rumah sebesar ini sendirian?” Tanya ibu itu.
“ Ya tidak bu, aku bahagia-bahagia saja, ibu sekarang tinggal di mana?”.
“ ibu tinggal di negeri jauh de, di mana kenari,Padma,dan kamboja mekar di sana-sini. Negeri di mana kebebasan menjadi absolut karena toleransi penghuninya”.
Ibu itu tersenyum. Aku tidak paham apa yang ia maksud. Mana ada negeri seperti itu, suatu negeri tidak akan lepas dari monopoli seseorang atau kelompok, di sudut-sudut kotanya pasti ada orang-orang yang makan dari tong sampah dan lalu lalang di depannya orang-orang menggunakan mobil.
“ooh begitu ya, kedengarannya menarik bu, ibu namanya siapa?”.
“nanti kapan-kapan kalau kamu mau, saya bisa ajak kamu ke sana, Sri nama Ibu. “
“ wah senang sekali pastinya berkunjung ke tempat seperti itu, di sana banyak kue pancong tidak bu?”
“ iya, nanti kapan-kapan aku ajak kamu, tapi sebelumnya kita minta izin dulu pada orang tuamu.tentulah ada dik kue pancong di sana.”
“ iya, ibu dan bapak pasti mengizinkan, lagipula aku sedang bosan di sini, bapak dan ibu terlalu sibuk bekerja, aku jarang berbicara pada mereka, tidak pernah malah. “
“ gunakan kesendirianmu untuk merenung dik, manusia kadang lupa di mana ia meletakkan kebaikan karena terlalu sibuk bekerja. Ibu pamit dulu, lain kali Ibu bawa kue pancong untuk kamu.”
“ iya bu, terima kasih” Sahutku.
****
Matahari menguncup. Malam selalu datang terburu-buru. Kadang aku berpikir mengapa manusia menamakan hari,bulan,dan tanggal, kalau semuanya dibuat dari ketiadaan dan muncul dengan ketiba-tibaan. Apakah harus semua itu dijadikan patokan?  Batas Cuma Tuhan yang menentukan. Kita cuma berjaga-jaga sebenarnya terhadap segala hal yang datang tiba-tiba. Baik itu kelahiran atau kematian. Dan sebisa mungkin menggagalkan atau menyukseskan.
Pukul 11.00 malam
Aku mendengar ibu menangis dan bapak teriak bahagia, sepertinya ada hal yang terjadi pada mereka. Aku tidak berani untuk menanyakannya, mungkin itu urusan orang dewasa. Sayup-sayup ibu terisak sambil memeluk ayah.
“ mas, aku pengen kue pancong mas”
“ iya, nanti aku belikan, yang penting kamu sekarang istirahat, biar bayi itu sehat ”sahut bapak.
“ iya, aku tidur duluan ya mas”
“iya”
Malam itu terasa kebahagian di keluarga kami. Walaupun aku tidak diberitahu secara langsung, aku tetap bahagia, karena sebentar lagi aku akan memiliki adik, dan bisa menemani setiap hari.
****
Keesokan harinya, berjalan seperti biasa, tidak ada yang mengejutkan. Ibu,Bapak selalu pergi tanpa permisi. Bibi datang dan pulang tanpa belang. Dan aku sendiri lagi. Tidak ada yang aku harapkan hari ini. Terlalu banyak permintaan kadang membuat manusia lupa kelebihan.
Dari luar rumah terdengar suara orang mengetuk pintu.
“ Assalamualaikum”
Wah Ibu tua itu datang lagi, kebetulan aku sedang bosan.
“ Walaikumsalam, wah ibu, ayo masuk, aku ingin bercerita”
Kami pun masuk ke rumah.
“ Ibu aku mau cerita, semalam aku dengar orang tuaku menangis dan tertawa, karena aku sebentar lagi akan memiliki adik”
“ Alhamdulillah, semoga semuanya berjalan lancar”.
“ibu, punya anak?”
“Dulu, ibu sempat mengandung seorang anak, namun keguguran”
Seketika suasana hening.
“ keguguran kenapa bu? Kok bisa?”
“ Ibu tidak mau anak ibu tinggal di dunia yang kotor ini. Ibu kasian. Kelahiran adalah kutukan yang datang dari leluhur . ibu takut ia akan mengalami hal-hal yang menjijikan dan menimbun dosa. Ibu takut” jawab Ibu Sri sambil terisak
“ aku tidak mengerti bu, yang aku tahu, seseorang anak datang ke dunia karena memang tugasnya”
“ Nanti kamu juga paham, tenang saja, manusia butuh proses untuk menangkap segala hal yang belum ia rasakan.”
Aku dan ibu Sri menjadi semakin akrab . Bercerita tentang ini itu membuatku senang. Ada hal lain yang aku rasakan ketika ia datang ke rumah ini. Keheningan yang membungkus ruangan, sekarang mengikis dipecah ceriwis.

******

Hari ke hari aku lihat perut ibu semakin membuncit. Tapi, sampai sekarang pun aku belum pernah mendengar mereka menceritakan kebahagiaan ini padaku. Mungkin, mereka ingin memberikan kejutan ini padaku saat bayi itu lahir. Ah, betapa asyiknya punya adik. Malam,pagi,siang,sore dan kembali lagi ke malam,pasti  rumah ini ramai dengan tangisannya. Tidak ada lagi sepi yang membungkus. Semua menjadi gaduh. Aku pasti kerepotan mengajaknya bermain di saat Ibu dan Bapak pergi ke kantor.
Menggantikan popoknya, membuatkan ia susu, dan menidurkannya. Indahnya.
Tapi, keindahan itu sirna ketika malam tiba. Aku mendengar ibu menangis lagi. Tapi, ayah tidak tertawa kali ini, ia terdiam. Aku sangat penasaran kali ini. Dengan gemetar aku hampiri mereka dan berniat untuk bertanya.
“ Bu,Pak, sebentar lagi aku punya adik ya?”
Mereka tidak menjawab. Aku lihat air mata ibu mengalir deras, membasahi baju, hingga lantai tempat ia berdiri di hadapan Bapak. Bapak cuma diam. Matanya kosong. Aku kesal mereka tidak menjawab pertanyaanku. Diam kadang memberikan maksud lain dari pemahaman.
Tiba-tiba Ibu memeluk ayah.
“ mas, maafkan aku tidak bisa menjaga anak ini dengan baik. Aku tahu kamu sudah lama menunggu kelahirannya, cuma apa mau dikata nasib berpihak lain”.
“iya, aku tidak menyalahkanmu, ini semua karena Tuhan belum mengizinkan kita merawat titipannya, itu saja” jawab bapak
Ibu kehilangan bayinya. Ia keguguran tiba-tiba. Dan aku tidak jadi punya adik. Keinginan tinggal jadi angan malam ini.
Kejutan yang luar biasa pikirku. Di saat mereka belum menjelaskan perihal kandungan ibu, kandungan itu telah mati. Kesal, dongkol bercampur di dalam batinku. Aku berlari ke kamar dan menangis. Kemudian, tertidur.
******
Pagi dan embun datang membilas malam yang asing. Tanah-tanah menggembur. Langit mengurung burung, menimbulkan bahana dalam buana. Sementara, aku masih mengedipkan mata,mencari kebenaran semalam.
“ ini sarapan dulu, mimpi kadang menguras energi berlebih, kamu pasti lapar” Kata ibu.
“ asyik kue pancong, terima kasih ya bu, Ibu tidak pergi ke kantor?”
“ tidak ah, aku mau merawatmu saja, biar bapak yang ke kantor. Aku mau menikmati negeri ini bersamamu”
“ di mana kenari,padma, dan kamboja mekar di sana sini ya bu, aku mengerti sekarang”  sahutku
Kami pun menghabiskan kue pancong itu sampai kenyang tidak bisa lagi datang.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar