Tahukah kamu tentang
mimpiku semalam? Saat lampu kamar mulai meremang dan rintik hitam berjatuhan di
pelupuk mataku bersama langit-langit kamar yang rampak tak nampak, Gelap.
Kilatan demi kilatan menumpuk di ambang batas. Membias dalam nirsadar. Ada matahari
dan bulan bertengger di sisi ranjang. Ada tetumbuhan bertandak dihembus napas.
Dan ada ibu serta bapak yang sibuk bekerja menguras pikiran untuk kebutuhan
keluarga. Mereka selalu pergi ketika matahari masih mengedipkan binarnya, dan
bulan merajuk karena kantuk. Aku pun masih tidur ketika mereka berangkat.
Aku yang berumur 15 tahun ini terkadang menghabiskan
waktu di pelataran rumah. Melihat orang lalu lalang membawa dagangan, atau
kadang melihat keranda yang dibopong oleh beberapa orang. Kebetulan rumahku
dekat pemakaman umum. Konon, rumahku dulu juga bekas makam zaman Belanda. Aku
tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Sesuatu yang tidak ada akan muncul
karena kita memikirkannya. Biar saja “mereka” bermain di rumahku, mau
bergelantungan kek, lari-larian kek, atau mungkin mengintip aku mandi, ya bodo
amat. Toh nantinya aku sama seperti mereka. Ada namun tidak ada (Ada
diidentikkan dengan wujud konkret). Kematian adalah substansi dari
kehidupan.
*******
Pukul 08.00 biasanya bibi sudah datang
ke rumah, ia langsung menuju dapur dan mencuci semua piring serta gelas.
Pembantuku ini sudah 2 tahun bekerja di sini. Dia orang kampung sebelah. Bibi
bekerja dengan cepat, kira-kira pukul dua belas atau satu siang ia sudah
pulang. Dan tinggal aku sendiri di sini.
Bagiku, kesendirian adalah denging dari
keramaian. Kesendirian selalu membawah hal lain. Keheningan yang muncul menjadi
suara-suara asing yang memutar lalu menelusup ke lubang-lubang kosong dalam
diri manusia. Ia oposisi yang dilupakan atau sengaja ditinggalkan. Manusia
selalu takut dengannya.. Paradoksal memang. Esensinya, manusia dilahirkan untuk
sendiri. Lalu mati dan dikubur seorang diri.
Aku mulai belajar memahami kesendirian
setelah mimpi waktu itu. Mimpi yang mendekonstruksi kenyataan menjadi acak
dan terbalik. Pepohonan yang berjalan di udara,tanah-tanah yang menjadi ombak,
lalu hewan-hewan yang sibuk bermain gaplek dan berdagang. Semua manusia berubah
menjadi orang gila. Posisiku saat itu cuma bayang-bayang yang memerhatikan
kontradiksi tersebut. Coba bayangkan kalau semua itu terjadi, tidak ada manusia
yang pergi ke kantor, tidak ada orang-orang yang mendorong gerobak sayur, dan
tidak ada orang yang terbebani. Manusia cuma makhluk yang ditakdirkan untuk
tertawa sendiri-sendiri. Mereka fokus dalam pencarian masing-masing. Orang gila
selalu punya cara untuk menemukan kebahagian dari eksistensi mereka di dunia.
Biar mampus hewan-hewan itu dikunyah nalar dan toleransi, seperti kita sekarang
ini di dunia nyata.
*******
Pukul 06.00 sore , aku baru selesai
masturbasi. Tiba-tiba ada suara wanita mengetuk pintu rumahku.
“ assalamualaikum”
“ walaikumsalam, siapa?”
“ saya, tetangga baru, ingin berkenalan
kalau boleh” sahut ibu-ibu itu.
“iya sebentar bu”
Aku bergegas memakai pakaian dan
membersihkan segalanya. Lalu mengintip wanita itu dari celah jendela sebelum
membukakan pintu rumah. Sambil menguyah sesuatu, ibu itu memandangi rumahku.
Cat-catnya yang mulai meluntur mungkin menjadi daya tarik bagi pikiran-pikiran
ganjil. Namun, ia tidak mengeluarkan paras ciut ketika memandangi rumah ini, ia
malah tersenyum sendiri. Orang gila pikirku. Kebayanya yang mentereng menjelaskan
bahwa ia berasal dari Jawa. Rautnya agak tua, mungkin sekitar 50 tahun umurnya.
“ iya, ada apa bu? Ibu dan Bapak sedang
tidak ada di rumah “
“ tidak apa-apa de, saya ke sini hanya
untuk melihat rumah ini, bolehkah?”
“ lho, memangnya ada apa dengan rumah
ini bu?”.
“Tidak ada apa-apa, saya hanya ingin
melihat, dulu saya tinggal disini dik”
“ Wah, silakan masuk bu kalau begitu, mari
silakan”
Agak ragu aku sebenarnya, Cuma ya sudahlah
bersikap sopan tidak ada salahnya. Lalu ia pun masuk. Matanya menerawang
sudut-sudut rumah yang tak terjamah.
“ adik, tidak punya saudara? Tidak bosan
ya memangnya tinggal di rumah sebesar ini sendirian?” Tanya ibu itu.
“ Ya tidak bu, aku bahagia-bahagia saja,
ibu sekarang tinggal di mana?”.
“ ibu tinggal di negeri jauh de, di mana
kenari,Padma,dan kamboja mekar di sana-sini. Negeri di mana kebebasan menjadi
absolut karena toleransi penghuninya”.
Ibu itu tersenyum. Aku tidak paham apa
yang ia maksud. Mana ada negeri seperti itu, suatu negeri tidak akan lepas dari
monopoli seseorang atau kelompok, di sudut-sudut kotanya pasti ada orang-orang
yang makan dari tong sampah dan lalu lalang di depannya orang-orang menggunakan
mobil.
“ooh begitu ya, kedengarannya menarik
bu, ibu namanya siapa?”.
“nanti kapan-kapan kalau kamu mau, saya
bisa ajak kamu ke sana, Sri nama Ibu. “
“ wah senang sekali pastinya berkunjung
ke tempat seperti itu, di sana banyak kue pancong tidak bu?”
“ iya, nanti kapan-kapan aku ajak kamu,
tapi sebelumnya kita minta izin dulu pada orang tuamu.tentulah ada dik kue
pancong di sana.”
“ iya, ibu dan bapak pasti mengizinkan,
lagipula aku sedang bosan di sini, bapak dan ibu terlalu sibuk bekerja, aku
jarang berbicara pada mereka, tidak pernah malah. “
“ gunakan kesendirianmu untuk merenung
dik, manusia kadang lupa di mana ia meletakkan kebaikan karena terlalu sibuk
bekerja. Ibu pamit dulu, lain kali Ibu bawa kue pancong untuk kamu.”
“ iya bu, terima kasih” Sahutku.
****
Matahari
menguncup. Malam selalu datang terburu-buru. Kadang aku berpikir mengapa
manusia menamakan hari,bulan,dan tanggal, kalau semuanya dibuat dari ketiadaan
dan muncul dengan ketiba-tibaan. Apakah harus semua itu dijadikan patokan? Batas Cuma Tuhan yang menentukan. Kita cuma
berjaga-jaga sebenarnya terhadap segala hal yang datang tiba-tiba. Baik itu
kelahiran atau kematian. Dan sebisa mungkin menggagalkan atau menyukseskan.
Pukul
11.00 malam
Aku
mendengar ibu menangis dan bapak teriak bahagia, sepertinya ada hal yang
terjadi pada mereka. Aku tidak berani untuk menanyakannya, mungkin itu urusan
orang dewasa. Sayup-sayup ibu terisak sambil memeluk ayah.
“
mas, aku pengen kue pancong mas”
“
iya, nanti aku belikan, yang penting kamu sekarang istirahat, biar bayi itu
sehat ”sahut bapak.
“
iya, aku tidur duluan ya mas”
“iya”
Malam
itu terasa kebahagian di keluarga kami. Walaupun aku tidak diberitahu secara
langsung, aku tetap bahagia, karena sebentar lagi aku akan memiliki adik, dan
bisa menemani setiap hari.
****
Keesokan
harinya, berjalan seperti biasa, tidak ada yang mengejutkan. Ibu,Bapak selalu
pergi tanpa permisi. Bibi datang dan pulang tanpa belang. Dan aku sendiri lagi.
Tidak ada yang aku harapkan hari ini. Terlalu banyak permintaan kadang membuat
manusia lupa kelebihan.
Dari
luar rumah terdengar suara orang mengetuk pintu.
“
Assalamualaikum”
Wah
Ibu tua itu datang lagi, kebetulan aku sedang bosan.
“
Walaikumsalam, wah ibu, ayo masuk, aku ingin bercerita”
Kami
pun masuk ke rumah.
“
Ibu aku mau cerita, semalam aku dengar orang tuaku menangis dan tertawa, karena
aku sebentar lagi akan memiliki adik”
“
Alhamdulillah, semoga semuanya berjalan lancar”.
“ibu,
punya anak?”
“Dulu,
ibu sempat mengandung seorang anak, namun keguguran”
Seketika
suasana hening.
“
keguguran kenapa bu? Kok bisa?”
“
Ibu tidak mau anak ibu tinggal di dunia yang kotor ini. Ibu kasian. Kelahiran
adalah kutukan yang datang dari leluhur . ibu takut ia akan mengalami hal-hal
yang menjijikan dan menimbun dosa. Ibu takut” jawab Ibu Sri sambil terisak
“
aku tidak mengerti bu, yang aku tahu, seseorang anak datang ke dunia karena
memang tugasnya”
“
Nanti kamu juga paham, tenang saja, manusia butuh proses untuk menangkap segala
hal yang belum ia rasakan.”
Aku
dan ibu Sri menjadi semakin akrab . Bercerita tentang ini itu membuatku senang.
Ada hal lain yang aku rasakan ketika ia datang ke rumah ini. Keheningan yang
membungkus ruangan, sekarang mengikis dipecah ceriwis.
******
Hari
ke hari aku lihat perut ibu semakin membuncit. Tapi, sampai sekarang pun aku
belum pernah mendengar mereka menceritakan kebahagiaan ini padaku. Mungkin,
mereka ingin memberikan kejutan ini padaku saat bayi itu lahir. Ah, betapa
asyiknya punya adik. Malam,pagi,siang,sore dan kembali lagi ke malam,pasti rumah ini ramai dengan tangisannya. Tidak ada
lagi sepi yang membungkus. Semua menjadi gaduh. Aku pasti kerepotan mengajaknya
bermain di saat Ibu dan Bapak pergi ke kantor.
Menggantikan
popoknya, membuatkan ia susu, dan menidurkannya. Indahnya.
Tapi,
keindahan itu sirna ketika malam tiba. Aku mendengar ibu menangis lagi. Tapi,
ayah tidak tertawa kali ini, ia terdiam. Aku sangat penasaran kali ini. Dengan
gemetar aku hampiri mereka dan berniat untuk bertanya.
“
Bu,Pak, sebentar lagi aku punya adik ya?”
Mereka
tidak menjawab. Aku lihat air mata ibu mengalir deras, membasahi baju, hingga
lantai tempat ia berdiri di hadapan Bapak. Bapak cuma diam. Matanya kosong. Aku
kesal mereka tidak menjawab pertanyaanku. Diam kadang memberikan maksud lain
dari pemahaman.
Tiba-tiba
Ibu memeluk ayah.
“
mas, maafkan aku tidak bisa menjaga anak ini dengan baik. Aku tahu kamu sudah
lama menunggu kelahirannya, cuma apa mau dikata nasib berpihak lain”.
“iya,
aku tidak menyalahkanmu, ini semua karena Tuhan belum mengizinkan kita merawat
titipannya, itu saja” jawab bapak
Ibu kehilangan bayinya. Ia keguguran
tiba-tiba. Dan aku tidak jadi punya adik. Keinginan tinggal jadi angan malam
ini.
Kejutan yang luar biasa pikirku. Di saat
mereka belum menjelaskan perihal kandungan ibu, kandungan itu telah mati.
Kesal, dongkol bercampur di dalam batinku. Aku berlari ke kamar dan menangis.
Kemudian, tertidur.
******
Pagi dan embun datang membilas malam
yang asing. Tanah-tanah menggembur. Langit mengurung burung, menimbulkan bahana
dalam buana. Sementara, aku masih mengedipkan mata,mencari kebenaran semalam.
“ ini sarapan dulu, mimpi kadang
menguras energi berlebih, kamu pasti lapar” Kata ibu.
“ asyik kue pancong, terima kasih ya bu,
Ibu tidak pergi ke kantor?”
“ tidak ah, aku mau merawatmu saja, biar
bapak yang ke kantor. Aku mau menikmati negeri ini bersamamu”
“ di mana kenari,padma, dan kamboja
mekar di sana sini ya bu, aku mengerti sekarang” sahutku
Kami pun menghabiskan kue pancong itu
sampai kenyang tidak bisa lagi datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar