Selasa, 18 Desember 2012

Pendidikan Indonesia: Eksistensi Nilai serta Orientasi Masa Lampau



Memprihatinkan, mungkin kata yang cocok untuk mewakili keadaan pendidikan di Indonesia  saat ini. Angka kelulusan yang rendah, pengangguran yang marak, dan terfokusnya akses pendidikan ke beberapa kota besar saja di Indonesia, menjadi bukti dari kesemrawutan dalam dunia pendidikan. Kompleksitas dalam peningkatan mutu pendidikan saat ini seperti rayap yang menggerogoti sumber daya manusia di nusantara. Program-program yang dicanangkan oleh pemerintah malah menimbulkan ironi bagi pelakunya. Bukannya angka kelulusan dan prestasi yang naik, tetapi angka kebodohan dan kematian yang bertambah menjelang ujian. Berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson, Indonesia menempati posisi terbawah dalam urusan pendidikan. Penilaian tersebut diambil melalui tes yang dilakukan setiap tiga atau empat tahun di berbagai bidang, termasuk matematika, sains, dan kesusasteraan. Ini menjadi bukti dari ketimpangan sebuah sistem dan struktur yang bergulir saat ini di Indonesia. Di samping itu, faktor sejarah di nusantara juga ikut berpartisipasi dalam membentuk watak dan mental masyarakat pada umumnya. Kewajaran menerima nasib dan kebodohan telah ditanamkan oleh kaum penjajah. Sehingga, ketika kita berbicara tentang pendidikan, maka korelasi yang timbul tidak sederhana, melainkan krusial.
Pada zaman imperealisme di indonesia, sekolah-sekolah yang didirikan hanya beberapa unit saja. Sekolah-sekolah tersebut dibangun oleh Belanda karena mendapat kecaman dari kaum humanis dan sosial demokrat atas kekeliruan politik penjajahan kolonial Belanda. Akibat kecaman tersebut, Belanda menjalankan politik etis atau politik balas budi dengan memberikan pendidikan melalui sekolah-sekolah tersebut. Pada awalnya, orang-orang yang bisa bersekolah pun dibatasi melalui sistem hierarki, yaitu hanya golongan bangsawan dan priayi. Namun, seiring berjalannya waktu, sekolah untuk pribumi rakyat jelata pun dibuat. Dalam pendidikan tersebut, masyarakat Indonesia dibentuk menjadi individu yang terampil sebagai buruh atau pergawai yang bekerja pada pihak Belanda.
Dari potongan sejarah pendidikan di atas, dapat dilihat bahwa perkembangan pendidikan di Indonesia zaman dahulu sampai saat ini tidak signifikan. Keadaannya masih sama ,pola pendidikan yang membentuk masyarakat menjadi buruh atau pegawai. Hanya beda sisi dalam problem , namun serupa dalam orientasi yang menyesatkan. Ada kebudayaan yang bercorak negatif timbul menjadi kebiasaan sampai sekarang. Selain itu, sistem dan struktur yang mengatur ranah pendidikan pun ikut berpartisipasi dalam kemunduran pendidikan di Indonesia. Sistem yang dibuat oleh pemerintah ini terlalu memaksakan kecerdasan sosial dan spasial saja. Padahal, elemen yang diperlukan dalam membangun masyarakat yang maju itu beragam dan saling melengkapi. Pendidikan yang hanya terfokus pada ipa dan ips membuat pola pikir seseorang menjadi terbatas. Terfokusnya pendidikan dalam dua bidang tersebut, menimbulkan keraguan pada pelajar ketika menentukan jurusan dalam universitas. Pelajar Indonesia tumbuh menjadi individu yang skeptis.  Banyak pelajar yang salah jurusan atau pun cari aman dengan memilih jurusan yang umum. Terkadang, pengetahuan yang didapat di bangku kuliah selama 4 tahun pun dirasa belum cukup untuk melengkapi minat seseorang, karena ilmu yang sebelumnya didapatkan pada jenjang SD,SMP,SMA itu tidak koheren dengan jurusan yang dipilih ketika kuliah. Maka, imbas dari sistem tersebut menyebabkan orientasi masyarakat yang hanya mementingkan kebutuhan pangan saja untuk bertahan hidup. Sistem telah menciptakan masyarakat yang homogen. Masyarakat Indonesia berlomba-lomba mencari “aman” dengan menjadi pegawai atau buruh di instansi pemerintah.  
 Kesemrawutan sistem juga terjadi pada kurikulum yang selalu berubah-ubah. Dampak dari perubahan itu memaksa  pelajar untuk  selalu bisa beradaptasi dengan pembaharuan. Dan kenyataannya, siswa keteteran untuk menyesuaikan pola-pola baru tersebut.  Ujian nasional yang diadakan untuk menguji kompetensi siswa justru menjadi lahan basah bagi oknum-oknum yang merauk keuntungan dengan menjual kunci jawaban ujian kepada siswa.
Faktor tenaga pengajar atau guru pun sangat berpengaruh dalam menentukan kemajuan pendidikan. Sistem hierarki yang dipakai di Indonesia dalam mentolerir dan menentukan jabatan seorang guru seharusnya dihapuskan , karena kapabelitas yang dimiliki guru-guru tersebut tidak sebanding dengan sistem yang berjalan saat ini. Struktur-struktur seperti inilah yang semestinya kita ubah untuk mencapai tujuan bersama yaitu kemajuan. Harus ada perpotongan siklus sebagai awal perubahan. Selanjutnya, pemilihan guru semestinya juga dikriteriakan. Integritas dan loyalitas menjadi syarat utama bagi seorang guru. Materi atau upah hanyalah bonus dari pengabdian dan bukan prioritas. Toh, pekerjaan guru memang mengabdi kepada bangsa dan negara, seperti tentara. Sementara itu, metode dalam mengajar pun dilihat tidak efektif dalam membentuk kpribadian dan pengetahuan siswa. Metode seperti, menghafal, peringkat, dan menghukum, secara tidak langsung membudaya di tiap-tiap sekolah. Pertama, budaya menghafal membuat pelajar tidak mampu untuk memahami materi, ketika materi tersebut diubah menjadi bentuk lain. Menghafal membuat seorang manusia seperti robot yang diprogram tanpa intepretasi. Kedua, budaya memberikan peringkat pun itu tidak baik bagi psikologi siswa, karena secara tidak langsung pelajar tersebut merasa diintimidasi, jika pelajar tersebut mendapat peringkat rendah. Melihat keadaan tersebut, tidak jarang guru-guru yang menjadi pilih kasih pada anak-anak yang cerdas saja. Dan ketiga ialah budaya menghukum. Budaya ini membentuk pelajar takut dalam berpendapat. Sehingga, kemampuan dalam berbicara di depan umum pun jarang dimiliki oleh pelajar pada umumnya.
Uraian di atas hanyalah bagian kecil dari aspek-aspek yang mesti dibenahi dalam pendidikan di Indonesia. Benturan dari hulu ke hilir pasti terjadi jika aspek-aspek tersebut dimplementasikan dalam pendidikan saat ini. Intervensi pemerintah yang terlalu jauh dalam ranah pendidikan membuat semuanya menjadi rumit. Menjadi politik. Mengenai sumber daya manusia di Indonesia, sebenarnya tidak kalah dengan negara lain. Bangsa Indonesia mampu untuk berkompetisi di dunia global. Namun, rasa malas yang mungkin timbul sejak zaman penjajahan, menjadi musuh utama bagi masyarakat Indonesia. Maka, inilah tugas pengajar, membangun semangat berkembang untuk masyarakat. Bukan tekanan dan intimidasi karena ketakutan akan masa depan. Kualitas guru harus menjadi nomor satu dalam pengembangan pendidikan ini. Sebagai contoh, finlandia yang menjadi negara pendidikan terbaik di dunia, memilih guru atau pengajar melalui kriteria yang cukup berat. Guru-guru tersebut dipilih melalui universitas dan nilai terbaik. Maka, tak dapat diragukan lagi kapabelitas dari guru-gurunya. Orang-orang yang menjadi guru di finlandia memiliki prestise yang tinggi di masyarakat, walaupun upah yang diterimanya tidak banyak. Penghargaan menjadi kunci penting dalam menciptakan kondusifnya lingkungan guru. Nah, inilah unsur yang hilang dari lingkungan pendidikan Indonesia. Menurunnya prestise sebagai guru menimbulkan tujuan yang berbeda dari guru-guru , yaitu materi. Berbeda ketika zaman penjajahan. Profesi guru dianggap mulia dan dipandang di masyarakat. Pekerjaan seorang guru menjadi kebanggaan, karena ilmu-ilmu yang dikuasainya.
Ada beberapa hal yang saya lihat mengenai perbandingan pendidikan zaman dahulu dan saat ini. Pertama, orientasi dan suasana yang dibentuk pada masyarakat tetap sama seperti zaman kolonial, yaitu menjadi pegawai atau buruh di instansi pemerintah yang berkuasa. Kedua, menurunnya prestise pada profesi guru menjadikan unsur materi masuk sebagai intensi guru pada saat ini. Padahal, zaman dulu profesi guru adalah pekerjaan yang terpandang dan tidak mementingkan materi. Maka dapat disimpulkan, bahwa Pendidikan Indonesia mengalami stagnan sejak zaman penjajahan. Bahkan menurun dalam hal prestise yang diterima seorang guru. Masyarakat Indonesia masih belum mampu keluar dari pengaruh penjajahan, yaitu dengan menggunakan orientasi dan tetap memakai nilai-nilai hierarki dalam ranah pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar