Memprihatinkan, mungkin
kata yang cocok untuk mewakili keadaan pendidikan di Indonesia saat ini. Angka kelulusan yang rendah,
pengangguran yang marak, dan terfokusnya akses pendidikan ke beberapa kota
besar saja di Indonesia, menjadi bukti dari kesemrawutan dalam dunia
pendidikan. Kompleksitas dalam peningkatan mutu pendidikan saat ini seperti
rayap yang menggerogoti sumber daya manusia di nusantara. Program-program yang
dicanangkan oleh pemerintah malah menimbulkan ironi bagi pelakunya. Bukannya
angka kelulusan dan prestasi yang naik, tetapi angka kebodohan dan kematian
yang bertambah menjelang ujian. Berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh
firma pendidikan Pearson, Indonesia menempati posisi terbawah dalam urusan
pendidikan. Penilaian tersebut diambil melalui tes yang dilakukan setiap tiga
atau empat tahun di berbagai bidang, termasuk matematika, sains, dan
kesusasteraan. Ini menjadi bukti dari ketimpangan sebuah sistem dan
struktur yang bergulir saat ini di Indonesia. Di samping itu, faktor sejarah di
nusantara juga ikut berpartisipasi dalam membentuk watak dan mental masyarakat pada
umumnya. Kewajaran menerima nasib dan kebodohan telah ditanamkan oleh kaum
penjajah. Sehingga, ketika kita berbicara tentang pendidikan, maka korelasi yang
timbul tidak sederhana, melainkan krusial.
Pada
zaman imperealisme di indonesia, sekolah-sekolah yang didirikan hanya beberapa
unit saja. Sekolah-sekolah tersebut dibangun oleh Belanda karena mendapat
kecaman dari kaum humanis dan sosial demokrat atas kekeliruan politik
penjajahan kolonial Belanda. Akibat kecaman tersebut, Belanda menjalankan
politik etis atau politik balas budi dengan memberikan pendidikan melalui
sekolah-sekolah tersebut. Pada awalnya, orang-orang yang bisa bersekolah pun dibatasi
melalui sistem hierarki, yaitu hanya golongan bangsawan dan priayi. Namun, seiring
berjalannya waktu, sekolah untuk pribumi rakyat jelata pun dibuat. Dalam
pendidikan tersebut, masyarakat Indonesia dibentuk menjadi individu yang terampil
sebagai buruh atau pergawai yang bekerja pada pihak Belanda.
Dari
potongan sejarah pendidikan di atas, dapat dilihat bahwa perkembangan
pendidikan di Indonesia zaman dahulu sampai saat ini tidak signifikan. Keadaannya
masih sama ,pola pendidikan yang membentuk masyarakat menjadi buruh atau
pegawai. Hanya beda sisi dalam problem , namun serupa dalam orientasi yang
menyesatkan. Ada kebudayaan yang bercorak negatif timbul menjadi kebiasaan
sampai sekarang. Selain itu, sistem dan struktur yang mengatur ranah pendidikan
pun ikut berpartisipasi dalam kemunduran pendidikan di Indonesia. Sistem yang
dibuat oleh pemerintah ini terlalu memaksakan kecerdasan sosial dan spasial
saja. Padahal, elemen yang diperlukan dalam membangun masyarakat yang maju itu
beragam dan saling melengkapi. Pendidikan yang hanya terfokus pada ipa dan ips
membuat pola pikir seseorang menjadi terbatas. Terfokusnya pendidikan dalam dua
bidang tersebut, menimbulkan keraguan pada pelajar ketika menentukan jurusan
dalam universitas. Pelajar Indonesia tumbuh menjadi individu yang skeptis. Banyak pelajar yang salah jurusan atau pun
cari aman dengan memilih jurusan yang umum. Terkadang, pengetahuan yang didapat
di bangku kuliah selama 4 tahun pun dirasa belum cukup untuk melengkapi minat
seseorang, karena ilmu yang sebelumnya didapatkan pada jenjang SD,SMP,SMA itu
tidak koheren dengan jurusan yang dipilih ketika kuliah. Maka, imbas dari
sistem tersebut menyebabkan orientasi masyarakat yang hanya mementingkan
kebutuhan pangan saja untuk bertahan hidup. Sistem telah menciptakan masyarakat
yang homogen. Masyarakat Indonesia berlomba-lomba mencari “aman” dengan menjadi
pegawai atau buruh di instansi pemerintah.
Kesemrawutan sistem juga terjadi pada
kurikulum yang selalu berubah-ubah. Dampak dari perubahan itu memaksa pelajar untuk selalu bisa beradaptasi dengan pembaharuan. Dan
kenyataannya, siswa keteteran untuk menyesuaikan pola-pola baru tersebut. Ujian nasional yang diadakan untuk menguji
kompetensi siswa justru menjadi lahan basah bagi oknum-oknum yang merauk
keuntungan dengan menjual kunci jawaban ujian kepada siswa.
Faktor
tenaga pengajar atau guru pun sangat berpengaruh dalam menentukan kemajuan
pendidikan. Sistem hierarki yang dipakai di Indonesia dalam mentolerir dan
menentukan jabatan seorang guru seharusnya dihapuskan , karena kapabelitas yang
dimiliki guru-guru tersebut tidak sebanding dengan sistem yang berjalan saat
ini. Struktur-struktur seperti inilah yang semestinya kita ubah untuk mencapai
tujuan bersama yaitu kemajuan. Harus ada perpotongan siklus sebagai awal
perubahan. Selanjutnya, pemilihan guru semestinya juga dikriteriakan.
Integritas dan loyalitas menjadi syarat utama bagi seorang guru. Materi atau
upah hanyalah bonus dari pengabdian dan bukan prioritas. Toh, pekerjaan guru
memang mengabdi kepada bangsa dan negara, seperti tentara. Sementara itu,
metode dalam mengajar pun dilihat tidak efektif dalam membentuk kpribadian dan
pengetahuan siswa. Metode seperti, menghafal, peringkat, dan menghukum, secara
tidak langsung membudaya di tiap-tiap sekolah. Pertama, budaya menghafal
membuat pelajar tidak mampu untuk memahami materi, ketika materi tersebut
diubah menjadi bentuk lain. Menghafal membuat seorang manusia seperti robot
yang diprogram tanpa intepretasi. Kedua, budaya memberikan peringkat pun itu
tidak baik bagi psikologi siswa, karena secara tidak langsung pelajar tersebut
merasa diintimidasi, jika pelajar tersebut mendapat peringkat rendah. Melihat
keadaan tersebut, tidak jarang guru-guru yang menjadi pilih kasih pada anak-anak
yang cerdas saja. Dan ketiga ialah budaya menghukum. Budaya ini membentuk
pelajar takut dalam berpendapat. Sehingga, kemampuan dalam berbicara di depan
umum pun jarang dimiliki oleh pelajar pada umumnya.
Uraian
di atas hanyalah bagian kecil dari aspek-aspek yang mesti dibenahi dalam
pendidikan di Indonesia. Benturan dari hulu ke hilir pasti terjadi jika aspek-aspek
tersebut dimplementasikan dalam pendidikan saat ini. Intervensi pemerintah yang
terlalu jauh dalam ranah pendidikan membuat semuanya menjadi rumit. Menjadi
politik. Mengenai sumber daya manusia di Indonesia, sebenarnya tidak kalah
dengan negara lain. Bangsa Indonesia mampu untuk berkompetisi di dunia global. Namun,
rasa malas yang mungkin timbul sejak zaman penjajahan, menjadi musuh utama bagi
masyarakat Indonesia. Maka, inilah tugas pengajar, membangun semangat
berkembang untuk masyarakat. Bukan tekanan dan intimidasi karena ketakutan akan
masa depan. Kualitas guru harus menjadi nomor satu dalam pengembangan
pendidikan ini. Sebagai contoh, finlandia yang menjadi negara pendidikan
terbaik di dunia, memilih guru atau pengajar melalui kriteria yang cukup berat.
Guru-guru tersebut dipilih melalui universitas dan nilai terbaik. Maka, tak
dapat diragukan lagi kapabelitas dari guru-gurunya. Orang-orang yang menjadi
guru di finlandia memiliki prestise yang tinggi di masyarakat, walaupun upah
yang diterimanya tidak banyak. Penghargaan menjadi kunci penting dalam
menciptakan kondusifnya lingkungan guru. Nah, inilah unsur yang hilang dari
lingkungan pendidikan Indonesia. Menurunnya prestise sebagai guru menimbulkan
tujuan yang berbeda dari guru-guru , yaitu materi. Berbeda ketika zaman
penjajahan. Profesi guru dianggap mulia dan dipandang di masyarakat. Pekerjaan
seorang guru menjadi kebanggaan, karena ilmu-ilmu yang dikuasainya.
Ada beberapa hal yang saya lihat mengenai perbandingan pendidikan zaman
dahulu dan saat ini. Pertama, orientasi dan suasana yang dibentuk pada
masyarakat tetap sama seperti zaman kolonial, yaitu menjadi pegawai atau buruh
di instansi pemerintah yang berkuasa. Kedua, menurunnya prestise pada profesi
guru menjadikan unsur materi masuk sebagai intensi guru pada saat ini. Padahal,
zaman dulu profesi guru adalah pekerjaan yang terpandang dan tidak mementingkan
materi. Maka dapat disimpulkan, bahwa Pendidikan Indonesia mengalami stagnan
sejak zaman penjajahan. Bahkan menurun dalam hal prestise yang diterima seorang
guru. Masyarakat Indonesia masih belum mampu keluar dari pengaruh penjajahan,
yaitu dengan menggunakan orientasi dan tetap memakai nilai-nilai hierarki dalam
ranah pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar