
Pada awalnya, manusia membuat semacam mitologi-mitologi untuk menjawab segala pertanyaan dari perubahan-perubahan yang terjadi di dunia. Misalnya saja, di Skandinavia, bangsa Viking menciptakan tokoh dewa-dewi seperti thor, odin, freyr,dll. Sementara di Yunani kuno, orang-orang menciptakan cerita tentang Zeus, Appolo, Athena,Hera yang sebagian besar ditulis oleh Homer dan Heresoid. Namun, mitologi yang dituliskan Homer banyak mendapat pencekalan, karena watak dewa yang ditampilkannya tidak berbeda dengan manusia. Jahat dan licik. Mitlogi-mitologi ini pun berakhir ketika filsafat alam mulai masuk sebagai jawaban untuk alasan dan perubahan. Orang-orang mulai menggunakan akal dan merasionalisasikan setiap kejadian dengan penelitian dan pengalaman empirik.
3 filsuf dari Miletus
Thales -> ia mengungkapkan bahwa segala sesuatu berasal dari air, zat yang membentuk segala.
Anaximander -> gagasannya tentang "sesuatu yang tak terbatas". dia tidak mempercayai bahwa ada suatu zat seperti air yang bisa membentuk segala, karena pencipta tidak mungkin sama dengan hasil ciptaannya.
Anaximenes -> pengembangan dari teori Thales mengenai air. Anaximenes yakin bahwa sebelum air tercipta itu ada zat udara yang membentuk. Ia meyakini kekekalan udara dalam menciptakan sesuatu.
Filsus Italia Selatan "orang-orang elea"
Parmenides -> menganggap bahwa segala sesuatu tidak ada yang berubah. Teorinya ini adalah pengembangan dari garis pemikiran filsuf alam lainnya yang menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang berasal dari ketiadaan. Parmenides mengungkapkan bahwa akalnya lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan indra yang ia miliki.
Heraclitus -> Segala sesuatu mengalir. Ketika kita mengulang suatu kejadian, pastilah terjadi perubahan, tidak konstan. Dunia dicirikan sebagai dua fenomena. kebaikan dan kejahatan. lapar dan kenyang. sakit dan sehata. dualisme antagonistik. Selain itu, ia meyakini bahwa ada "akal universal" dalam manusia yang menyebabkan suatu kesadaran alami .
kedua teori di atas saling kontradiksi. Parmenides menekankan bentuk yang konstan, namun Heraclitus menyebutkan bahwa tidak ada bentuk yang sama. Adalah Empedocles yang menengahkan teori kedua filsuf tersebut. Ia mengatakan kesalahan kedua filsuf tersebut terletak pada terfokusnya "satu unsur" saja. Empedocles meyakini bahwa segalanya terjadi dari empat unsur. Tanah,air,api, dan udara. keempatnya saling mengait dalam membentuk suatu perubahan, dan berpencar ketika telah habis atau rusak. Itulah mengapa kita dapat melihat awan, kuda, dan gajah, karena ada unsur-unsur tadi yang menyusupi mata kita yang juga berada di dalam gajah, awan, dan kuda.
Anaxagoras -> seorang filsuf pertama dari Athena, ia menolak gagasan unsur-unsur yang sebelumnya didefinisikan. ia menganggap bahwa semua berasal dari partikel yang sangat kecil. partikel tersebut mewakili ciri-ciri bentuk lainnya. segala sesuatu dari segala sesuatu dalam segala sesuatu.
dan terakhir adalah Democritus. Ia memiliki gagasan tentang atom yang ada di tiap sesuatu. atom tersebut berpencar dan membentuk kembali . Begitu seterusnya menjadi sebuah siklus. Democritus memiliki teori seperti lego. Balok lego tersebut memiliki fleksibelitas untuk membentuk segala yang Pencipta mau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar