Senin, 04 Maret 2013

Nanti, kalau sudah lulus mau jadi apa? Guru SD? Atau Pengangguran?

Sastra Indonesia, sebuah jurusan yang sangat sedikit peminatnya. Banyak orang berpikir, bahwa jurusan tersebut tidak memiliki peluang pekerjaan. Sekalipun ada, ya mungkin hanya guru SD atau guru les. Tidak muluk-muluk. Dan tidak bisa memberikan kebanggaan.  Setidaknya, bagi masyarakat Indonesia.   
Ini menjadi fenomena dalam perspektif masyarakat di Indonesia. Jurusan Sastra Indonesia seolah-olah hanya menjadi tempat orang-orang yang bodoh dan tidak berkompeten  untuk bersaing di dunia global. Boro-boro global , lingkup daerah saja belum tentu hehehehe.
Sebagai seseorang yang menggeluti bidang tersebut, saya sering mandapatkan pertanyaan seperti di atas. Kalau mood saya lagi bagus, paling saya jawab, " jadi apa saja ", tetapi kalau sedang buruk, saya menjawab "iya" saja.  Saya memang menaruh Sastra Indonesia pada pilihan kedua ketika SNMPTN dahulu. Pikir saya, jurusan ini bisa membawa saya pada bidang yang kelak saya akan capai. Sutradara. Mata kuliah yang memang fokus pada tulis menulis ini nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan dulu, sekadar menulis apa yang ada di dalam imajinasi, lalu tuangkan. Namun, Mahasiswa Sastra Indonesia dituntut untuk berpikir out of the box melalui puisi, novel, dan analogi lainnya. Pemahaman nalar ditarik hingga kesimpulan akhir yang memberikan makna estetik dan nilai pada suatu karya sastra yang biasanya terselubung.  
Sastra itu hidup di dunia makna dan tanda. Semantik dan semiotik. Sastra adalah ilmu yang mempelajari gambaran kehidupan beserta konsepnya. Dalam sastra, kita belajar empat hal paling penting dalam hidup, yaitu membaca, berpikir, menulis, dan berbicara yang merupakan konsep dasar ilmu pengetahuan lainnya. Semua dilakukan dengan sangat struktural. Keempat unsur tersebut menjadi bagian utuh di dalam sastra. Selain itu, Sastra memiliki peran penting dalam merawat rohani manusia. Sastrawan asal sunda, Ajip Rosidi, mengatakan bahwa kemunduran moral yang ada di Indonesia sekarang ini merupakan dampak dari proses dekadensi yang terjadi. Sastra Indonesia adalah dimensi rohani yang hilang. Sebagai sarana katarsis, peran sastra di nusantara kian dilupakan. Orientasi masyarakat saat ini hanya materi, yang mendewakan konsumerisme dan bentuk negatif lainnya.  Mengenai prospek kerja, sastra memiliki fleksibelitas untuk beradaptasi di berbagai disiplin ilmu dan pekerjaan . Semua tergantung individu. Tergantung manusia, bagaimana ia berusaha menciptakan kebahagiaan dalam kehidupannya serta mencapai kesuksesan. Yang pasti, sastra merupakan pondasi untuk beranjak ke tingkatan yang lebih tinggi.  
Setidaknya, saya mengerti. Semua disiplin ilmu memiliki titik kesulitannya masing-masing. Semua perlu ketekunan untuk mencapai pemahaman. Pandangan tentang sastra yang mudah dan sederhana, rupanya salah besar. Kesederhanaan yang dianggap mungkin hanya ada dalam perasaan sok tahu manusia.  Bagi sastra, selama teks masih berlaku dalam kehidupan, selama itu pula ia berharga bagi manusia.

" lho, nanti kalau sudah lulus mau jadi apa? guru SD? atau pengangguran?" 

 " jadi manusia yang hidupnya lebih bahagia dibanding Anda."


1 komentar: