Sastra
Indonesia, sebuah jurusan yang sangat sedikit peminatnya. Banyak orang
berpikir, bahwa jurusan tersebut tidak memiliki peluang pekerjaan. Sekalipun
ada, ya mungkin hanya guru SD atau guru les. Tidak muluk-muluk. Dan tidak bisa
memberikan kebanggaan. Setidaknya, bagi masyarakat Indonesia.
Ini menjadi
fenomena dalam perspektif masyarakat di Indonesia. Jurusan Sastra Indonesia
seolah-olah hanya menjadi tempat orang-orang yang bodoh dan tidak
berkompeten untuk bersaing di dunia global. Boro-boro global ,
lingkup daerah saja belum tentu hehehehe.
Sebagai seseorang yang menggeluti bidang tersebut, saya sering mandapatkan pertanyaan seperti di atas. Kalau mood saya lagi bagus, paling saya jawab, " jadi apa saja ", tetapi kalau sedang buruk, saya menjawab "iya" saja. Saya memang menaruh Sastra Indonesia pada pilihan kedua ketika SNMPTN dahulu. Pikir saya, jurusan ini bisa membawa saya pada bidang yang kelak saya akan capai. Sutradara. Mata kuliah yang memang fokus pada tulis menulis ini nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan dulu, sekadar menulis apa yang ada di dalam imajinasi, lalu tuangkan. Namun, Mahasiswa Sastra Indonesia dituntut untuk berpikir out of the box melalui puisi, novel, dan analogi lainnya. Pemahaman nalar ditarik hingga kesimpulan akhir yang memberikan makna estetik dan nilai pada suatu karya sastra yang biasanya terselubung.
Sebagai seseorang yang menggeluti bidang tersebut, saya sering mandapatkan pertanyaan seperti di atas. Kalau mood saya lagi bagus, paling saya jawab, " jadi apa saja ", tetapi kalau sedang buruk, saya menjawab "iya" saja. Saya memang menaruh Sastra Indonesia pada pilihan kedua ketika SNMPTN dahulu. Pikir saya, jurusan ini bisa membawa saya pada bidang yang kelak saya akan capai. Sutradara. Mata kuliah yang memang fokus pada tulis menulis ini nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan dulu, sekadar menulis apa yang ada di dalam imajinasi, lalu tuangkan. Namun, Mahasiswa Sastra Indonesia dituntut untuk berpikir out of the box melalui puisi, novel, dan analogi lainnya. Pemahaman nalar ditarik hingga kesimpulan akhir yang memberikan makna estetik dan nilai pada suatu karya sastra yang biasanya terselubung.
Sastra itu hidup
di dunia makna dan tanda. Semantik dan semiotik. Sastra adalah ilmu yang
mempelajari gambaran kehidupan beserta konsepnya. Dalam sastra, kita belajar
empat hal paling penting dalam hidup, yaitu membaca, berpikir, menulis, dan
berbicara yang merupakan konsep dasar ilmu pengetahuan lainnya. Semua dilakukan
dengan sangat struktural. Keempat unsur tersebut menjadi bagian utuh di dalam
sastra. Selain itu, Sastra memiliki peran penting dalam merawat rohani manusia.
Sastrawan asal sunda, Ajip Rosidi, mengatakan bahwa kemunduran moral yang ada
di Indonesia sekarang ini merupakan dampak dari proses dekadensi yang terjadi.
Sastra Indonesia adalah dimensi rohani yang hilang. Sebagai sarana katarsis,
peran sastra di nusantara kian dilupakan. Orientasi masyarakat saat ini hanya
materi, yang mendewakan konsumerisme dan bentuk negatif
lainnya. Mengenai prospek kerja, sastra memiliki fleksibelitas untuk
beradaptasi di berbagai disiplin ilmu dan pekerjaan . Semua tergantung
individu. Tergantung manusia, bagaimana ia berusaha menciptakan kebahagiaan
dalam kehidupannya serta mencapai kesuksesan. Yang pasti, sastra merupakan pondasi untuk beranjak ke
tingkatan yang lebih tinggi.
Setidaknya, saya
mengerti. Semua disiplin ilmu memiliki titik kesulitannya masing-masing. Semua
perlu ketekunan untuk mencapai pemahaman. Pandangan tentang sastra yang mudah
dan sederhana, rupanya salah besar. Kesederhanaan yang dianggap mungkin hanya
ada dalam perasaan sok tahu manusia. Bagi sastra, selama teks masih
berlaku dalam kehidupan, selama itu pula ia berharga bagi manusia.
" lho, nanti kalau sudah
lulus mau jadi apa? guru SD? atau pengangguran?"
" jadi manusia yang
hidupnya lebih bahagia dibanding Anda."
maka dari itu. jangan pindah..
BalasHapus