Selasa, 14 Mei 2013

awang-awang

Birokrasi dalam harmoni

Indonesia sore ini tidak lebih dari sekadar parodi. Permasalahan yang timbul merupakan sebuah komedi yang menghasilkan  gelak bagi penikmatnya. Bagaimana tidak, dari permasalahan tersebut, orang-orang berlomba atau bahkan berkompromi untuk mencari jalan keluar atas persoalan yang muncul. Satu per satu aspirasi ditampung dan dipilih mana yang memiliki “ambisi”, lalu diimani. Sebuah hasil kerja kolektif yang dinamakan birokrasi. Memang , kita harus mafhum terhadap itu semua. Tanpa adanya birokrasi, penataan kehidupan tidak akan terorganisir dengan baik. Tanpa adanya struktur dan sistem, apakah mungkin manusia bisa bergerak dengan keteraturan ?
Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan susunan di dalam otak. Ketika kita menulis, berbicara, dan bertindak itu merupakan aktivitas yang tersusun di dalam otak melalui kerangka berpikir. Semua dilakukan secara struktural. Ada hierarki yang mesti dilalui satu per satu. Tingkatan-tingkatan yang ada di dalam kepala kita merupakan birokrasi yang paling mendasar. Dari yang paling mendasar itulah perlu dilakukan pengaturan sebagai pondasi untuk ke lingkup yang lebih besar, yaitu negara atau daerah di mana berisi ratusan ribu atau bahkan jutaan orang. Dengan kata lain, diri sendiri merupakan objek yang tempat untuk memulai segala hal. Ini yang masih menjadi problematik di Indonesia. Individu dan kelompok yang berperan di dalam suatu sistem sosial agaknya memiliki permasalahan dalam mengatur birokrasi di dalam diri masing-masing.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar