Kamis, 02 Mei 2013

review Kitab Omong Kosong - Seno Gumira Ajidarma


            Seno membagi bukunya menjadi 52 fragmen yang masing-masing merupakan pengembangan dari tema utama, yaitu Ramayana karangan Walmiki. Selain itu, cerita disusun dalam dua alur yang memiliki relevansi  historiografi. Pada anasir awal, seno menceritakan kejadian yang menimpa tokoh Maneka. Sebuah rajah kuda menempel di tubuh sejak Maneka lahir. Rajah ini kemudian disimbolkan sebagai kutukan yang harus diterima oleh Maneka dan seluruh umat manusia. Ketika malam, rajah kuda itu keluar dari punggung Maneka. Ia berlari ke seluruh benua sebagai persembahan kuda dari bala tentara Ayodya kerajaan Sri Rama. Motif dari persembahan kuda itu ialah untuk menumpas segala kejahatan yang ada dengan melakukan invansi ke seluruh dunia oleh negara Ayodya. Dalam kekuasaan Ayodya, Sri Rama yakin jika dunia berada dalam satu kekuasaan, maka kejahatan akan hilang. Seno membangun kontradiksi watak dalam tokoh Sri Rama secara tidak langsung dimaksudkan untuk melegitimasi kejahatan sebagai pemenang. Hal itu dilakukan Seno karena ia secara sadar menangkap peristiwa-peristiwa negatif yang selalu mendominasi dan terus tumbuh di sekitar kita.
pada anasir lain Seno menukil kitab hindu seperti Sutasoma dan beberapa sumber lain mengenai moksa dan pembebasan manusia.
                                                                avighnam astu
                                inilah catus visphala, urutan empat tingkat pembebasan
                                          Nishparha,nirbana,niskala,dan nirasraya
                                  Nihsprha : Tak ada lagi yang ingin dicapai manusia
                                         Nirbana : Tiada berbadan, tiada bertujuan
                                      Niskala: Menyatu dengan Yang-Serba-Tak-Ada
                                  Tanpa ciri, tanpa bentuk, tanpa warna, tanpa sisa
                                                     Jiwa mencapai Niskala,
                                     bersemayam di kaki Bhattara Paramasiva
                                        Nirasraya : Lebur dalam tubuhnya
                                Jiwa bebas dari segala pengetahuan konseptual
                              jiwa meninggalkan niskala, San Hyan Atma tiada
                                  Tak bersubstansi, tak berbentuk, tak berciri
                                                   Masuk dunia tertinggi

                                                                                                                       - Pembukaan jnanasiddhanta

Empat konsep di atas saya rasa berkaitan dengan ilmu tasawuf yang ada di indonesia, khususnya di masyarakat jawa kejawen, yaitu Syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Kesamaan tersebut lahir dari sinkretis  Islam dan Hindu yang sebelumnya dipeluk oleh masyarakat Jawa. Pemaknaannya pun sama, hanya berbeda dalam Subjek yang dituju.
Di lain pihak, Kitab Omong Kosong merupakan dekonsturuksi dari ramayana. Walmiki sebagai pengarang Ramayana dihidupkan dan dihakimi oleh para lakon yang telah dibuatnya. Sementara itu, dapat dilihat bahwa Seno secara implisit mengimani konsep Derrida. Di beberapa fragmen, Seno menjelaskan dalam percakapan tokohnya, bahwa tidak ada yang benar di dalam dunia ini. Semua bisa ditafsir ulang, karena makna bergantung pada tiap persepsi masing-masing orang. Kitab Omong Kosong yang dicari oleh tokoh Satya dan Maneka adalah kitab yang berisi ilmu pengetahuan. Kitab itu bisa meminimalisir waktu yang digunakan manusia untuk membangun peradabannya kembali setelah dihancurkan oleh pasukan Ayodya. Namun sepertinya Seno menafikan ilmu pengetahun yang dibutuhkan tersebut. Dalam dialog tokoh Maneka dan Satya misalnya, dapat kita pahami bahwa Pengetahuan itu omong kosong. Sifatnya sementara untuk menutup keterbatasan manusia dalam mengungkap rahasia-rahasia alam. Semua pasti keliru, karena pengetahuan manusia tumbuh terus, tetapi tidak bisa melampaui cakrawala pengetahuan dihadapannya. Pengetahuan yang difungsikan sebagai pencari kebenaran nyatanya malah menimbulkan ironi. Manusia hanya mengilustrasikan saja sebagai bentuk pemuasan dari hal-hal yang sebenarnya tidak tercapai. Kebenaran hanya sebuah dongeng., kebenaran hanya dikira-kira, maka sifatnya sementara. Manusia membuat segala bermakna, supaya tidak merasa sia-sia. Misalnya saja, kelahiran. Dari satu sisi saja kita dapat menarik kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang suka bermain-main. Bermain makna. Kita memakai toga ketika wisuda itu adalah wujud kebermaknaan dari sebuah pencapaian. Segala atribut dikeluarkan dan ditentukan berdasarkan konvensi. Atau ketika sidang sang hakim memakai baju-baju dan palu yang sebenarnya absurd. untuk apakah itu semua? Manusia selalu takut untuk menginsafi keterbatasannya.
Masuk ke isi kitab yang dicari tokoh Maneka dan Satya, kitab pertama menjelaskan bahwa Dunia Seperti Adanya Dunia. Bagian itu memberikan pengertian seperti manusia menguraikan pohon kelapa. memisahkan tempurungnya, memisahkan sabutnya, memisahkan airnya, dan memisahkan daunnya. Kitab kedua berjudul Dunia dalam pandangan manusia yang berarti seluruh bentuk yang ada itu karena manusia bisa merasakan melalui pancaindranya. Adanya pohon kelapa karena kita (manusia) melihat pohon tersebut. Adanya langit karena kita bisa menangkap gerak dan bentuknya. Kalau langit tidak dapat dirasai oleh manusia, maka langit itu tidak ada. Adanya kesadaran sebagai tolak ukur. Pada kita ketiga berjudul Dunia Yang Tidak Ada. Bagian ketiga ini menerangkan mengenai penggambaran manusia terhadap dunia. Angka dan bahasa merupakan penggambaran dunia yang dilakukan manusia. Kemudian kitab keempat berjudul Mengadakan Dunia. Pengertian dari kitab keempat merupakan cara manusia dalam memaknai dan menentukan guna dalam segala hal. Selanjutnya, kita kelima yaitu Kitab Keheningan, kesimpulan dari kitab sebelumnya bahwa tidak ada yang sepatutnya diperbincangkan. Semua hanya omong kosong.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar