Semua orang pernah merasakan kejenuhan. Jenuh ketika bangun tidur, ketika makan, ketika berjalan, ketika berpikir, dan ketika bernapas. Ketika-ketika itu memang mengada. Bukan sekadar umpama. Yang kita tahu saat ini ialah, mayoritas manusia menginginkan hidup panjang, tetapi, di suatu sudut yang gelap, ada manusia yang melonglong minta dihilangkan peranannya. Mungkin karena perannya yang figuran, peran yang terlalu banyak, atau peranan yang tidak menghasilkan apa-apa.
Kejenuhan mungkin punya kapasitas lebih untuk mengatur hidup kita. Ia buat gesekan di dalam zona nyaman kita selama ini. Dengan gesekan itu, kita akan gusar, bahwa aktivitas yang kita kerjakan bukanlah suatu hal yang melulu baik. Ada jentik-jentik keburukan yang perlahan-lahan membangun pondasinya.
Kalau dalam Mahabharata, sisi buruk dan baik itu harus sama-sama dipelihara. Keduanya saling melengkapi. Bukankah antagonisme memang harus ada dalam apa pun? Tidak ada sehat,jika tidak ada sakit. Tidak ada mati jika tidak ada hidup.
Dalam lakon Mahabharata, raksasa dan reksesi itu perlu dijaga kelestariannya, tidak bisa ditumpas massal. Para punggawa pandawa memerlukan raksasa itu sebagai bahan untuk mereka berlatih. Untuk mereka awas, sebelum perang Bharatayudha meletus.
Balik lagi pada soal kejenuhan, itu merupakan sifat dasar manusia. Kalau kita melihat sejarah, manusia purba kerap hidup nomaden, yakni berpindah-pindah. Memang, hal itu disebabkan bukan semata-mata karena mereka jenuh, tapi sumber makanan yang mereka cari di tempat tersebut telah habis dan mengharuskan untuk berganti tempat. Tapi, kejenuhan juga punya andil dalam menentukan 'pindah' atau tidaknya manusia-manusia itu. Mereka menuntut suasana berbeda. Atau contoh lainnya, yakni dialek. Konon, orang-orang zaman dahulu sering mengganti afiks bahasanya, juga karena jenuh.
Dalam hal ini, rasa jenuh punya faedahnya sendiri. Ia bikin manusia tidak selalu puas dengan pencapaian awal. Ia setubuhi lingkungan, ia jamah kepekaan. Dampaknya, manusia terus berkembang menjadi makhluk yang lebih baik. Atau lebih buruk, karena intensi yang berlebihan, mungkin.
Sekarang, tinggal kita sebenarnya untuk menentukan, diatur atau mengatur rasa jenuh tersebut. Seperti hal di atas, imbuhan di- atau me- juga saling berlawanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar