Selasa, 06 Agustus 2013

saya

Saya kadang mengingat-ingat  sepuluh tahun lampau, ketika bapak saya sedang gemar-gemarnya dengan tinju. Apa pun dapat dihantamnya, Tak peduli itu hidup atau mati. Tapi beliau juga punya hobi lain, yakni bermain tetris di gimbot. Ada pun ibu saya, beliau tengah bergelora untuk bersungut, terutama pada saya. Dan adik saya, ia masih kecil, baru belajar mengenal hal-hal yang dianggap tidak baik.
Ya, sepuluh tahun itu pun beranjak, tanpa aba-aba dari siapa pun.
 Sepuluh tahun yang lalu, bagi saya, bukan waktu yang lama. Dengan catatan, seluruhnya dihabiskan dengan bermain. Atau mungkin, melamun. Namun, dalam rentang waktu tersebut, ada yang telah berhenti. Kakek, bibi, om, uwa, dan kerabat dekat lain memutuskan atau diputuskan untuk undur diri dari lingkaran permainan.
Pernah saya baca suatu buku yang mengungkit konsep waktu dan ruang. Buku itu mengatakan, bahwa waktu adalah manifest dari persepsi kita selama ini. Manusia mencari sebuah konkretisasi untuk menutupi keterbatasannya. Keterbatasan dalam banyak hal; umur, tenaga, militansi, atau ingatan yang perlahan-lahan melarut.
                Dan tibalah saya saat ini. Ketika bapak saya sudah tidak menyukai tinju. Ketika ibu saya telah berhenti, atau mungkin lebih tepatnya, mengurangi intensitas bersungutnya, dan adik saya yang kini telah paham bagaimana menjadi tidak baik. Saya sendiri pun mungkin sekarang telah berubah. Menjadi seorang yang dewasa atau tetap sedikit-sedikit tidak meninggalkan tabiat lama. Saya akui, menilai diri sendiri itu tidak mudah.
Tidak bedanya dengan sebuah negara, manusia terus menerus melakukan perbaikan. Nampaknya, dialektika Hegel di sini punya nilai tersendiri untuk membuktikan, bagaimana suatu hal yang hidup tidak selalu taat dengan batasnya. Ia diubah dan mengubah yang ada di dalam dan di sekitarnya.
Maap, saya nulis apa,sih, ini?


1 komentar: