Saya kadang mengingat-ingat sepuluh tahun lampau, ketika bapak saya sedang
gemar-gemarnya dengan tinju. Apa pun dapat dihantamnya, Tak peduli itu hidup
atau mati. Tapi beliau juga punya hobi lain, yakni bermain tetris di gimbot. Ada pun
ibu saya, beliau tengah bergelora untuk bersungut, terutama pada saya. Dan adik
saya, ia masih kecil, baru belajar mengenal hal-hal yang dianggap tidak baik.
Ya, sepuluh tahun itu pun beranjak,
tanpa aba-aba dari siapa pun.
Sepuluh tahun yang lalu, bagi saya, bukan
waktu yang lama. Dengan catatan, seluruhnya dihabiskan dengan bermain. Atau
mungkin, melamun. Namun, dalam rentang waktu tersebut, ada yang telah berhenti.
Kakek, bibi, om, uwa, dan kerabat dekat lain memutuskan atau diputuskan untuk
undur diri dari lingkaran permainan.
Pernah saya baca suatu buku yang
mengungkit konsep waktu dan ruang. Buku itu mengatakan, bahwa waktu adalah manifest
dari persepsi kita selama ini. Manusia mencari sebuah konkretisasi untuk
menutupi keterbatasannya. Keterbatasan dalam banyak hal; umur, tenaga,
militansi, atau ingatan yang perlahan-lahan melarut.
Dan
tibalah saya saat ini. Ketika bapak saya sudah tidak menyukai tinju. Ketika ibu
saya telah berhenti, atau mungkin lebih tepatnya, mengurangi intensitas
bersungutnya, dan adik saya yang kini telah paham bagaimana menjadi tidak
baik. Saya sendiri pun mungkin sekarang telah berubah. Menjadi seorang yang
dewasa atau tetap sedikit-sedikit tidak meninggalkan tabiat lama. Saya akui,
menilai diri sendiri itu tidak mudah.
Tidak bedanya dengan sebuah negara,
manusia terus menerus melakukan perbaikan. Nampaknya, dialektika Hegel di sini
punya nilai tersendiri untuk membuktikan, bagaimana suatu hal yang hidup tidak
selalu taat dengan batasnya. Ia diubah dan
mengubah yang ada di dalam dan di sekitarnya.
Maap, saya nulis apa,sih, ini?
nyo. :*
BalasHapus