Senin, 30 September 2013

1

Malam itu, ketika jam bukanlah patokan, kami tertidur. Dengan selimut seadanya. Dengan kayu bakar yang tinggal serpih, kami saling merapat. Dalam dingin, satu sama lain adalah sama. Bau keringat, mungkin tidak mengapa. Asal tidak ada yang mengumpat, keadaan itu nikmat.
Tempat kami tidur, bukan rumah mewah, bukan juga penginapan yang menyediakan perapian atau tombol yang bisa mendatangkan permintaan. Hanya sebuah bilik kecil ukuran dua kali tiga yang dari atapnya terlihat bintang dan bulan yang sedang cari perhatian kepada kami, kepada semesta yang selalu takut digunjingkan.
Keesokan harinya kami bangun dan menyiapkan segala peralatan mencangkul, berburu, atau berdiam diri menunggu makanan. Pekerjaan itu selalu dilakukan bergantian. Tapi, kami selalu takut ketika salah satu di antara kami mendapatkan giliran menjaga bilik. Takut karena sewaktu-waktu ia jadi gila. Takut sewaktu-waktu ia berpikir kelewatan. Atau mungkin, kami hanya takut kalau-kalau merugi dan menjadi iri karena ia hanya duduk-duduk santai, menyunggingkan senyum, lalu bersantap. Ah, betapa susahnya jadi kami. Tolong maklumi. Kami itu diciptakan terlalu bebas. Kami hidup dari pilihan-pilihan yang kami ambil dan tidak kami ambil. Tentunya, dengan konsekuensi yang kadang setimpal, kadang tidak. Sangat rumit, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar