Sabtu, 07 September 2013

'Dan Drupadi'

Drupadi, aku dengar semalam suaramu dari lubang telinga Yudhistira. Suara yang menularkan nestapa pada titik cerita. Babak yang tidak mengenal perhitungan itu, selalu terasa lama. Seolah-olah semuanya disumbat oleh batang-batang kamiaka yang rimbun dan elusif. Hanya ada jalan-jalan kelam yang satu per satu mesti ditempuh sebagai darma dan karma. Sabarlah, untuk kesekian kalinya. Sabar untuk menagih janji kepada para dewata di balik langit itu. Langit yang selalu menggambar warna sendu, yang tidak pernah bisa menjamin bagaimana semuanya dapat berjalan sesuai. Suatu hal tidak akan melulu menurut konstelasi. Dalang dan intepretasinya selalu suka perkara yang membuatmu parau dalam detik, dalam menit. Dan mari, Drupadi, untuk kesekian kalinya, menangislah pada janji dan seringai babad yang bermata sebelah. Pada suratan yang suka membual. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar