Pengulangan mungkin adalah pengurangan. Ia
dikupas dari waktu ke waktu tanpa sadar, sonder risau. Kita selalu menikmatinya
dengan iming-iming babak baru yang lebih baik. Dengan hasrat yang tempo hari
digodok dari kesalahan dan pencapaian yang tidak akan pernah ada batasnya.
Sampai akhirnya kita sadar, bahwa kapasitas kita hanyalah berpasrah pada
keadaan yang nomadik. Pada situasi yang tidak mengharuskan kita untuk siap di
segala sisi.
Benjamin Button pernah merasakan keadaan seperti
itu. Ia lahir tidak seperti manusia lain. Uban telah menjalar di kepalanya yang
masih lunak. Dan kulit yang menggelambir pada wajah, dan sekujur tubuh. Di
panti jompo ia menetap dan berkawan dengan penghuni lain, yang notabene
orang-orang berusia lanjut. Orangtua kandungnya telah membuang ia ke tempat
tersebut, karena malu dengan kondisi Benjamin. Namun, ada titik di mana ia
mulai menerima dan mafhum atas apa yang terjadi. Benjamin yang mulai hidup
pertama kali menggunakan kursi roda ini, telah menjadi siap dan terbiasa. 'Tangan
waktu' kata Sapardi, selalu terulur ia lewat jendela/yang makin keras
dalam pengalaman/ mengarah padamu tambah tak tahu/memegang leher bajumu. Waktu
tidak akan pernah memberi tahu mengapa Benjamin menjadi demikian. Ia hanya
mengarah dan mengeras dalam keadaan yang tidak melulu baik.
Memang, kisah Benjamin Button merupakan suatu yang
mustahil. Impian untuk mendekonstruksi usia bukanlah solusi dari keterbatasan
yang selalu kita genggam. Pengulangan dan pengurangan akan selalu akrab dalam sekat-sekat
yang telah ditentukan pada diri kita. Namun setidaknya, ada proses perenungan
dan rekonsiliasi dengan masa silam yang dihasilkan oleh keduanya.
Selalu terulur ia lewat
jendela
Yang panjang dan
menakutkan
Selagi engkau bekerja,
atau mimpi pun
Tanpa berkata suatu apa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar