Senin, 02 September 2013

Selamat

Pengulangan mungkin adalah pengurangan. Ia dikupas dari waktu ke waktu tanpa sadar, sonder risau. Kita selalu menikmatinya dengan iming-iming babak baru yang lebih baik. Dengan hasrat yang tempo hari digodok dari kesalahan dan pencapaian yang tidak akan pernah ada batasnya. Sampai akhirnya kita sadar, bahwa kapasitas kita hanyalah berpasrah pada keadaan yang nomadik. Pada situasi yang tidak mengharuskan kita untuk siap di segala sisi.
Benjamin Button pernah merasakan keadaan seperti itu. Ia lahir tidak seperti manusia lain. Uban telah menjalar di kepalanya yang masih lunak. Dan kulit yang menggelambir pada wajah, dan sekujur tubuh. Di panti jompo ia menetap dan berkawan dengan penghuni lain, yang notabene orang-orang berusia lanjut. Orangtua kandungnya telah membuang ia ke tempat tersebut, karena malu dengan kondisi Benjamin. Namun, ada titik di mana ia mulai menerima dan mafhum atas apa yang terjadi. Benjamin yang mulai hidup pertama kali menggunakan kursi roda ini, telah menjadi siap dan terbiasa. 'Tangan waktu' kata Sapardi, selalu terulur ia lewat jendela/yang makin keras dalam pengalaman/ mengarah padamu tambah tak tahu/memegang leher bajumu. Waktu tidak akan pernah memberi tahu mengapa Benjamin menjadi demikian. Ia hanya mengarah dan mengeras dalam keadaan yang tidak melulu baik.
Memang, kisah Benjamin Button merupakan suatu yang mustahil. Impian untuk mendekonstruksi usia bukanlah solusi dari keterbatasan yang selalu kita genggam. Pengulangan dan pengurangan akan selalu akrab dalam sekat-sekat yang telah ditentukan pada diri kita. Namun setidaknya, ada proses perenungan dan rekonsiliasi dengan masa silam yang dihasilkan oleh keduanya.
Selalu terulur ia lewat jendela
Yang panjang dan menakutkan
Selagi engkau bekerja, atau mimpi pun
Tanpa berkata suatu apa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar