Pagi itu, tidak ada hal yang
janggal. Penginapan penuh dengan orang yang lalu lalang. Ada yang bersama
keluarga, kekasih, dan teman. Jam sembilan tepat, sarapan telah siap. Namun tidak semua orang berkumpul dalam ruang santap tersebut. Hanya beberapa, yang
lebih paham bagaimana seharusnya hidup yang sehat. Debur ombak itu lebih
penting, ketimbang sarapan yang tiap pagi kita temui dan telan.
Syahdan, sampailah keluarga lucas di
sebuah kolam kaporit yang ramai. Sebuah lanskap yag teratur dengan nyiur dan
beberapa patung pancuran berbentuk Budha membentang. Detik itu, tidak ada duka
di sana. Hanya segerombol burung yang gelisah. Terbang, kembali pulang.
''Lucas, ambil bola itu'' teriak
sang ayah.
Lucas pun keluar dari kolam, dan
bergegas mengambil bolanya. Sang ayah, dan kedua anak bungsunya tetap berada di
kolam. Menunggu Lucas. Di sisi kolam, ada sang ibu sedang membaca beberapa
tulisan.
Tiba-tiba, lantai di tempat itu
gemetar. Gemuruh datang dari selatan.
Semua orang yang berada di area itu
tercenung. Tiap mata dan kaki yang ada seperti terkunci. Air
laut beranjak dari depan ke arah mereka. Melewati pasir, menutup tanah. Dan
seketika, suara orang-orang saling bersahutan. Tapi, tunggu dulu. Sahut-menyahut
itu terjadi setelah ombak besar mulai memadam. Sesaat sebelumnya, naluri
masing-masing individu bergerak terpisah. Dalam artian, ikatan telah lebur
ketika situasi tengah klimaks. Figur ayah, ibu, atau anak bukan lagi sebuah
tanggung jawab. Atau mungkin, sebuah tanggung jawab memerlukan celah untuk
mengerjakannya, karena kapasitas manusia tidak lagi memadai.
Rekaman peristiwa itu membawa suatu
hal yang penting dalam suatu ikatan. Perpisahan, jadi bagian yang perlu dilewatkan, sejenak. Ia membuat suatu jarak sebagai penegas, apa yang menjadi prioritas.
The impossible sedikitnya telah
mampu untuk mengabadikan sebuah momen. Film ini adalah monumen bergambar yang
dibuat untuk mengabadikan duka di Khao Lak,Thailand ketika tsunami melanda tempat itu tahun 2004 silam.
Memang, sebuah monumen memiliki ruang untuk penikmatnya tenggelam pada suatu masa. Walaupun kesan yang diberikan tidak selalu positif. Untuk sebagian orang yang kehilangan sanak familinya, mungkin film ini harus dibuang. Traumatik dan rasa haru itu tidak perlu lagi dihadirkan kembali. Tapi, film ini punya plot yang berbeda di mana sebuah keluarga dipisahkan dan berjuang untuk saling mencari satu sama lain. Mereka menyisir bangunan-bangunan yang telah roboh dan rumah sakit dadakan. Melihat seluruh daftar pasien, dan mengecek jenazah. Optimisme akan yang selamat sudah pudar.
Mereka hanya perlu jasad orang-orang yang disayangi, walaupun bibir orang tersebut sudah membiru, dan tangan jadi kaku.
"Setidaknya jasad itu ditemukan, kami butuh jasadnya, ketimbang kaos, celana, atau sebagainya."
Memang, sebuah monumen memiliki ruang untuk penikmatnya tenggelam pada suatu masa. Walaupun kesan yang diberikan tidak selalu positif. Untuk sebagian orang yang kehilangan sanak familinya, mungkin film ini harus dibuang. Traumatik dan rasa haru itu tidak perlu lagi dihadirkan kembali. Tapi, film ini punya plot yang berbeda di mana sebuah keluarga dipisahkan dan berjuang untuk saling mencari satu sama lain. Mereka menyisir bangunan-bangunan yang telah roboh dan rumah sakit dadakan. Melihat seluruh daftar pasien, dan mengecek jenazah. Optimisme akan yang selamat sudah pudar.
Mereka hanya perlu jasad orang-orang yang disayangi, walaupun bibir orang tersebut sudah membiru, dan tangan jadi kaku.
"Setidaknya jasad itu ditemukan, kami butuh jasadnya, ketimbang kaos, celana, atau sebagainya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar