Membangun narasi itu tidak mudah. Kita bisa saja memulai dengan ide yang luar biasa, atribut lengkap, dan horison setinggi langit. Namun nyatanya, tiga hal itu bukan jaminan. Membangun narasi sama halnya dengan mengobrak-abrik apa yang telah kita lihat, dengar, dan pahami. Semua di dekonstruksi ulang. Mungkin hasil dari proses mendengar dijadikan yang dilihat, dan yang dipahami dihadirkan sebagai proses mendengar. Tidak ada susunan pasti.
Narasi adalah pembungkusan, atau mungkin peringkasan dari apa yang ada atau tidak ada dihadapan kita. Membangun narasi sama halnya membangun sebuah rumah. Ada pondasi, besi-besi, genting, dan sebagainya, yang menjadi struktur. Namun, struktur itu bersifat tentatif. Di suatu waktu, kita ingin melapisi kulitnya dengan warna hijau, atau kuning, atau coklat. Di waktu lain, kita pun ingin melumat kulit itu. Lalu, meninggalkannya.
Membangun narasi ialah instropeksi diri. Sebuah metode untuk mengukur,sejauh mana kita bisa menata birokrasi di dalam diri sendiri.
inspiratif sekali bang...
BalasHapus