Senin, 23 Desember 2013

Iseng

‘Anda perlu waktu, kami perlu uang’

Tulisan itu ada di pintu angkot. Saya membacanya sekelebat ketika sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Saya ambil handphone lalu memfotonya. Entah kenapa, ada kesan yang muncul dalam hal yang sangat sederhana ini. Dan itu membuat saya tergerak untuk menulis paparan yang lebih jauh lagi. Baiklah, coba saya paparin sedikit apa yang saya resapi.
Di kalimat itu, kata awalnya mengatakan ‘Anda’ yang berarti kata ganti orang kedua jamak. ‘Anda’ di sini adalah seorang yang memiliki kepentingan, entah apa pun itu. Tapi di sini dirincikan, ‘Anda’ memerlukan waktu. Tapi, keperluan si ‘Anda’ ini dibenturkan dengan kata ‘Kami’ di bagian selanjutnya. ‘Kami’ dalam kalimat itu memiliki kecenderungan ‘orang-orang’ yang kurang benar atau kurang baik. Saya simpulkan begitu karena posisi ‘Kami’ ada di tataran selanjutnya. Bukan yang utama seperti ‘Anda’.  Kedua subjek ini saling bersinggungan pada awalnya. Namun, karena dijelaskan masing-masing kepentingan secara terbuka, maka hilang sudah soalnya. Tidak ada pihak yang saling dirugikan. Semuanya saling bersinergi, kasarnya.
Contoh lain deh misalnya. Sekarang jika kita dikondisikan sebagai pengendara motor yang sedang mengejar waktu karena telat untuk pergi ke kantor atau berangkat ke kampus, kita akan memacu gas sekencang-kencangnya. Tapi, tiba-tiba di depan kita ada mobil yang lelet, menutupi jalan kita untuk melaju. Lalu apa yang terjadi ? Kepala kita akan panas, dan menjadi emosi dengan si pengendara mobil itu. Sementara itu, jika kondisi kita balik, si pengendara mobil adalah kita yang tengah menginjak gas dengan kecepatan rendah karena jalan yang rusak, atau menginjak gas pelan karena ada keperluan yang mesti diselesaikan melalui telepon genggam , mungkin kita akan benci mendengar suara plakson kendaraan yang ada di belakang kita. Bawel amat.

Ya seperti itulah pengandaiannya. Mengenai Sudut Pandang yang berada di mana-mana.

Di dunia yang besar ini, hidup bermilyaran kepala yang sedang memikirkan kepentingannya masing-masing. Kepala-kepala itu kadang saling bertabrakan, dan kadang menyatu padu. Tergantung apa yang bisa kepala-kepala itu dapatkan dari hubungan yang direncanakan atau tidak.
Saya pernah membaca suatu teori dari Protagoras, seorang filsuf yang hidup pada masa filsafat masih cenderung bersifat metafisik. Protagoras menjelaskan, bahwa apa yang baik dan benar itu bergantung kepada kebutuhan manusia itu masing-masing pada suatu waktu tertentu. Pemahaman kita selalu berubah-ubah tergantung di mana kita berada. Jika kita sebagai supir angkot seperti yang saya jelaskan di atas, mungkin kita akan menganggap bahwa jalanan sempit yang mepet dengan selokan itu wajar dan baik untuk dilewati sebuah mobil, karena di sanalah letak rezeki yang dikejar. Tapi lain halnya jika kita adalah supir pribadi seorang bos perusahaan besar yang menginginkan kenyamanan dalam perjalanan ke kantor. Sebagai supir pribadi, kita akan hati-hati untuk mengganti persneling, karena takut si bos jadi gusar. Oleh karena itu, yang dibutuhkan sekarang adalah pemahaman terhadap lawan. Bukan musuh, sebab musuh tidak memberikan dampak positif sama sekali. Sedangkan di dalam kata lawan, masih terdapat suatu substansi, yakni  iklim yang kompetitif untuk saling menguntungkan satu sama lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar