‘Anda perlu waktu, kami perlu uang’
Tulisan itu ada di pintu angkot.
Saya membacanya sekelebat ketika sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Saya
ambil handphone lalu memfotonya. Entah kenapa, ada kesan yang muncul dalam hal
yang sangat sederhana ini. Dan itu membuat saya tergerak untuk menulis paparan
yang lebih jauh lagi. Baiklah, coba saya paparin sedikit apa yang saya resapi.
Di kalimat itu, kata awalnya
mengatakan ‘Anda’ yang berarti kata ganti orang kedua jamak. ‘Anda’ di sini
adalah seorang yang memiliki kepentingan, entah apa pun itu. Tapi di sini
dirincikan, ‘Anda’ memerlukan waktu. Tapi, keperluan si ‘Anda’ ini dibenturkan
dengan kata ‘Kami’ di bagian selanjutnya. ‘Kami’ dalam kalimat itu memiliki
kecenderungan ‘orang-orang’ yang kurang benar atau kurang baik. Saya simpulkan
begitu karena posisi ‘Kami’ ada di tataran selanjutnya. Bukan yang utama
seperti ‘Anda’. Kedua subjek ini saling
bersinggungan pada awalnya. Namun, karena dijelaskan masing-masing kepentingan
secara terbuka, maka hilang sudah soalnya. Tidak ada pihak yang saling
dirugikan. Semuanya saling bersinergi, kasarnya.
Contoh lain deh misalnya. Sekarang
jika kita dikondisikan sebagai pengendara motor yang sedang mengejar waktu
karena telat untuk pergi ke kantor atau berangkat ke kampus, kita akan memacu
gas sekencang-kencangnya. Tapi, tiba-tiba di depan kita ada mobil yang lelet,
menutupi jalan kita untuk melaju. Lalu apa yang terjadi ? Kepala kita akan
panas, dan menjadi emosi dengan si pengendara mobil itu. Sementara itu, jika
kondisi kita balik, si pengendara mobil adalah kita yang tengah menginjak gas
dengan kecepatan rendah karena jalan yang rusak, atau menginjak gas pelan
karena ada keperluan yang mesti diselesaikan melalui telepon genggam , mungkin
kita akan benci mendengar suara plakson kendaraan yang ada di belakang kita.
Bawel amat.
Ya seperti itulah pengandaiannya. Mengenai Sudut
Pandang yang berada di mana-mana.
Di dunia yang besar ini, hidup
bermilyaran kepala yang sedang memikirkan kepentingannya masing-masing.
Kepala-kepala itu kadang saling bertabrakan, dan kadang menyatu padu. Tergantung
apa yang bisa kepala-kepala itu dapatkan dari hubungan yang direncanakan atau
tidak.
Saya pernah membaca suatu teori dari
Protagoras, seorang filsuf yang hidup pada masa filsafat masih cenderung
bersifat metafisik. Protagoras menjelaskan, bahwa apa yang baik dan benar itu
bergantung kepada kebutuhan manusia itu masing-masing pada suatu waktu tertentu.
Pemahaman kita selalu berubah-ubah tergantung di mana kita berada. Jika kita
sebagai supir angkot seperti yang saya jelaskan di atas, mungkin kita akan
menganggap bahwa jalanan sempit yang mepet dengan selokan itu wajar dan baik
untuk dilewati sebuah mobil, karena di sanalah letak rezeki yang dikejar. Tapi
lain halnya jika kita adalah supir pribadi seorang bos perusahaan besar yang
menginginkan kenyamanan dalam perjalanan ke kantor. Sebagai supir pribadi, kita
akan hati-hati untuk mengganti persneling, karena takut si bos jadi gusar. Oleh karena itu, yang dibutuhkan
sekarang adalah pemahaman terhadap lawan. Bukan musuh, sebab musuh tidak
memberikan dampak positif sama sekali. Sedangkan di dalam kata lawan, masih
terdapat suatu substansi, yakni iklim
yang kompetitif untuk saling menguntungkan satu sama lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar