Setiap orang memiliki pembenaran dari apa yang mereka lakukan. Tidak peduli dia seorang maling, atau koruptor, masing-masing punya satu tujuan yang mereka anggap baik. Para penjahat ini hanya belum paham mengenai penyesuaian terhadap suatu kondisi yang menguntungkan atau tidak. Dengan kondisi yang dilema itu, pemikiran seseorang akan cenderung menyempit. Sebagai contoh, para pejabat yang mendapatkan slot-slot untuk berbuat jahat dengan keuntungan yang besar, akan mengutamakan kesejahteraan keluarganya. Mobil baru untuk anak-anak dan istrinya, rumah yang memiliki patung, atau pun kolam renang merupakan beberapa bukti konkret dari apa yang disebut kasih sayang. Persetan dengan halal dan haram yang jadi ukuran. Di lain sisi, maling kelas teri pun sama. Mereka punya keluarga, mereka punya tingkat ketergantungan terhadap jasa yang hanya bisa dibeli melalui uang, dan mereka butuh makan untuk bertahan bagi dirinya sendiri.
Prioritas adalah pusat dari apa yang akan dan sedang kita lakukan. Namun, setiap hal butuh penyeimbang agar bisa dianggap pantas dan baik. Dengan internalisasi dan sensibilitas pada sekitar, kita pun akan paham bagaimana manfaat dari jalan yang kita ambil, dan jalan yang tidak kita ambil.
Lalu, siapa yang pantas untuk dihakimi selanjutnya?
Tentunya, diri sendiri yang selalu lupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar