Ada yang hilang setiap pejam kita. ada yang lebur dalam mimpi-mimpi pagi, yang tidak pernah kita ingat bagaimana bermula. Sesungguhnya kepala kita tidak mampu merekam setiap jejak. Kejadian di awal hari, siang hari, sore hari, bahkan penutup hari nyatanya begitu penting. Oleh karena itu, freud dengan teorinya mengatakan, bahwa ada tiga tahap yang kita miliki ketika hidup. Alam bawah sadar, prasadar, dan alam sadar. Tiga bagian itu saling melengkapi dan menutupi mana yang pantas atau tidak kita lakukan di depan orang banyak, atau hanya di dalam tidur. Alam bawah sadar bukanlah sebuah tempat, melainkan ruang yang kita punya untuk memuaskan keinginan-keinginan yang kita tekan dan lawan. Hal-hal seperti sex, menyakiti orang lain, atau yang berkaitan dengan pemuasan diri kita terhadap kesenangan. Di alam ini, tidak ada norma atau nilai yang mengukung manusia, bahwa dia salah atau benar, baik atau buruk. Memasuki tahap prasadar, keinginan yang tanpa batas itu diorganisir untuk diwujudkan dalam realitas. Alam ini memiliki fleksibelitas untuk berhubungan dengan dunia dalam dan luar di diri kita. Kemudian, sampailah kita pada alam sadar. Di mana semua telah diatur berdasarkan konvensi. Sebuah bentuk yang artifisial, yang kita insafi mau tidak mau, bisa atau tidak. Semua akan dibenturkan oleh kenyataan. Semua akan dibenturkan dengan sekaliling yang selalu memperhatikan tindak tanduk masing-masing. Bisa dibilang, teori freud tentang alam ini memiliki benang merah yang sama dengan kesimpulan sartre terhadap orang di sekitarnya, yakni orang lain adalah neraka di dunia. Pembatas dari apa yang diinginkan oleh diri kita, karena tidak semua sesuai dengan apa yang diusung oleh nilai.
Bernard shaw, dalam bukunya yang berjudul manusia adimanusia, pernah menulis, bahwa kita adalah para pengecut dan menindas seleksi alam dengan alasan cinta sesama. Kita adalah para pemalas dan mengabaikan seleksi buatan dengan kedok kehalusan budi dan moralitas.
Namun, kita adalah manusia yang tak paham bagaimana seharusnya yang berlalu biarlah berlalu, dan yang berjalan teruslah berjalan ke dalam nasibnya masing-masing.
"The answer my friend, is blowin in the wind." Bob Dylan 1963
Tidak ada komentar:
Posting Komentar