Selasa, 27 Mei 2014

Maslaah yang sama.

Selamat malam,aruna. Malam ini aku menunda untuk tidur. Entah karena apa. Mungkin, tanpa harus aku jelaskan kamu sudah mengerti, bukan. Di sudut ini, kegelisahan adalah dipan yang setiap malam aku dekap. Tapi disudut ini pula, kegelisahan hadir tanpa kata-kata. Hanya suara. Pernah kamu dengar kegelisahan bersuara, aruna. ia memekik sangat keras, menghantam kedua gendang telingaku yang sudah lama tidak mendengar suaramu. Bisakah kamu kirimkan beberapa potongan suaramu, aruna. Sudah lama sekali, lama sekali, di tempat yang tidak memiliki waktu kita terakhir kali berbincang-bincang. Hampir saja aku lupa bagaimana nada suaramu itu, aruna. tolong maafkan. kenangan terlalu sederhana untuk menerjemahkan secara rinci apa saja yang telah kita lewati. Tuhan pasti memiliki alasan mengapa menciptakan kenangan layaknya atom. Dipecah dan dipilah. Lalu pelan-pelan kita, manusia, mencoba merangkainya satu persatu, walaupun tidak menjadi utuh, setidaknya kita merasa sedikit lapang. Setidaknya.
Pukul tiga lebih lima belas menit, kepalaku belum juga tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar