Sabtu, 31 Mei 2014

Teks

Selamat malam, Aruna. Beberapa hari belakangan aku terlalu sibuk. Terlalu banyak orang yang lalu lalang akhir-akhir ini. Tapi syukurnya, malam ini tidak. Aku bisa berbicara leluasa kepadamu. Sekarang pukul delapan lebih lima belas menit, dan aku tidak tahu akan memulainya dari mana. Dari beberapa tulisan kemarin, ada sedikit kesadaran yang perlu diluruskan kembali mengenai tujuan menulis itu sendiri. Menulis, pada dasarnya adalah menuangkan pikiran ke dalam kata-kata yang maujud. Berbeda dengan berbicara, suara bisa saja alpa di waktu yang lain. Suara, seperti halnya angin yang tidak memiliki rumah. Ia bersifat arbitrer, dan tidak mandiri, karena bergantung terhadap posisi penggunanya. Bukankah begitu, Aruna? Karena sifatnya yang demikian, maka dengan mudah manusia lepas dari tanggung jawab terhadap hal-hal yang pernah ia nyatakan. Tapi tulisan lain, kemaujudan yang ia miliki memberikan ruang untuk manusia lebih hati-hati dalam menyatakan. Dalam tulisan, seseorang pasti mengalami keragu-raguan terhadap keseluruhan tulisan yang ia buat. Ia akan mengulang dan mengulang, sampai akhirnya menghapus semuanya dan tidak melakukan apa-apa. Seperti aku. Namun, hanya beberapa manusia yang memiliki kecenderungan tersebut. Di luar sana, banyak juga manusia yang menulis sampai utuh. Tidak ada pertimbangan yang berlebihan. Mengenai pertimbangan, aku jadi teringat percakapan dengan temanku beberapa hari yang lalu. Ia baru saja membaca sebuah teori psikologi yang membahas permasalahan manusia modern saat ini. Teori ini diciptakan oleh profesor psikologi di universitas Harvard yang aku lupa namanya. Ia mengatakan, bahwa opsi yang terlalu banyak telah membuat manusia di waktu sekarang menjadi makhluk yang penuh dengan pertimbangan. Pada dasarnya, pertimbangan-pertimbangan ini tindakan defensif dari kecemasan-kecemasan yang belum tentu ada. Kekecewaan, layaknya mendung yang harus dihindari sebelum hujan turun. Tapi, bukankah kekecewaan itu sendiri kita yang buat? Kita taruh harapan di dalam tubuh pilihan-pilihan yang kita ambil. Di saat harapan ini tidak dapat menjangkau kenyataan, timbullah traumatik dalam diri kita masing-masing. Kemudian, kita menjadi makhluk yang lebih ragu-ragu, dan takut mengambil risiko. Hal-hal seperti itulah yang membikin orang zaman sekarang tidak banyak melenguh, tapi cuma mengeluh. Betapa susahnya jadi manusia. Aruna, maafkan aku jika tulisan ini sangat membosankan dan tidak memiliki juntrungan. Aku rasa lebih baik mengakui sebelum dihakimi. ah, tapi memang aku terlalu ngelantur dan tidak fokus dengan ucapan di atas. Sebenarnya, aku ingin mengatakan, bahwa aku mengalami sedikit keremangan dari tujuan kegiatan menulis itu sendiri, apakah untuk mengeluh, atau menuangkan kegelisahan yang seharusnya tidak disimpan dalam kepala. Apa kamu tau perbedaan dari kedua kata itu. Aruna? Mengeluh dan gelisah? Mungkin sama dengan di atas, pemaknaan tidak bisa menyatakan dirinya sendiri. Ia memberikan jarak agar kita dapat membuat konstruksi yang sifatnya tentatif. Kalau begitu, suatu teks baik atau buruk tidak memiliki otoritas yang benar-benar utuh di dalam tubuh yang dimiliki. Semata-mata hanya alat. Setelah itu tidak ada lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar