Pada abad ke-5 SM Heraklitus pernah
mengatakan, bahwa "semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang
tinggal tetap." Perubahan atau pergeseran tersebut terjadi karena
munculnya kesadaran baru terhadap suatu hal. Renaisans atau abad pencerahan
sebagai peralihan dari abad pertengahan misalnya, merupakan reaksi atas tirani gereja di Barat
pada saat itu. Gereja dengan hak-hakmya yang absolut dalam menentukan nilai
untuk suatu masyarakat menimbulkan keadaan depresi yang tidak berkesudahan.
Ilmu pengetahuan direpresi, rasio jadi suatu hal yang diharamkan. Agama jadi
titik tolak dalam segala ihwal.
Dengan
dibendungnya akal budi tersebut, timbullah suatu kegelisahan yang terstruktur
dari berbagai aspek kehidupan. Tidak terkecuali filsafat dan seni. Kelas menengah
Renaisans memberontak dari para tuan tanah feodal dan kekuasaan Gereja. Gagasan
mengenai subjektivitas, kritik, dan kemajuan diteriakan di berbagai sudut.
Kompas, senjata api, dan percetakan merupakan prasyarat penting bagi periode
tersebut. Zaman baru telah lahir. Hidup manusia bukan lagi untuk persiapan di
akhirat kelak. Manusia ada bukan semata-mata demi Tuhan. Oleh karena itu,
manusia boleh berbahagia di kehidupannya yang sekarang. Di dalam novelnya yang
berjudul Dunia Sophie, Jostein Gaarder mengatakan bahwa:
Karena
itulah kita membicarakan kelahiran kembali humanisme zaman Yunani kuno. Tapi
humanisme Renaisans lebih dikenal karena tekanannya pada individualisme. Kita
bukan hanya umat manusia, kita adalah individu-individu yang unik. Gagasan ini selanjutnya
mendorong pada pemujaan yang tak terkendali pada kecerdasan pikiran.
Bisa
dikatakan, bahwa masa Renaisans merupakan babak awal dari suatu proses
modernisasi. Rasionalitas dan paradigma manusia sebagai subjek merupakan pokok
dari segala tindakan. Ilmu pengetahuan mendapatkan metode baru dalam
pendekatan, yakni metode empiris yang sistematis di mana segala sesuatu harus
berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan percobaan. Orientasi manusia berubah
total dengan kemajuan sebagai tujuan. Pola-pola lama yang sifatnya tradisional
disingkirkan dan digantikan oleh pola-pola baru.
Menurut
KBBI, modern berarti terbaru; mutakhir atau sikap dan cara bertindak sesuai
dengan tuntutan zaman. Semua yang tidak memiliki basis kesadaran terhadap pola
baru tersebut dikatakan reaksioner.
Pada
bidang filsafat, Bambang Sugiharto dalam bukunya yang berjudul Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat mengatakan, bahwa karakter yang
khas dalam modernisme adalah usaha untuk mencari dasar segala pengetahuan
tentang “apa”nya realitas, dengan cara kembali ke subjek yang mengetahui itu
sendiri. Dengan kata “apa” sebagai sesuatu yang pokok, manusia menjadi makhluk
yang lebih mempertimbangkan bentuk dibanding isi yang ditanyakan lewat
“bagaimana”.
Di
lain sisi, modernitas juga menawarkan “ahli-ahli” untuk mengatasi berbagai
persoalan di kehidupan manusia. Semua diorganisasikan untuk mengatur hidup
manusia agar menjadi lebih baik dan praktis. Namun begitu, yang pada mulanya
memiliki maksud untuk menawarkan malah berubah menjadi memaksa. Jika sakit
misalnya, seseorang harus pergi ke dokter agar sembuh, jika berbuat salah di
mata hukum, seseorang harus meletakkan nasibnya pada seorang pengacara. Modern
dalam konteks ini bisa diartikan sebagai peniadaan pilihan. Semua persoalan dibakukan
dan menjadi kebenaran umum. Logosentrisme dibangun sebagai patokan. Oleh karena
itu modernisme yang pada mulanya hadir untuk membongkar mitos dan tradisi,
sekarang malah menjadi mitos selanjutnya. Perubahan menjadi mitos tersebut
dikarenakan hal tadi, yang berupa penetapan terhadap kebenaran—logosentrisme,
dan penyingkiran berbagai kemungkinan-kemungkinan lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar