Kamis, 11 September 2014

Niatnya mau ngomongin Postmodern tapi berhenti di tengah jalan.

 Pada abad ke-5 SM Heraklitus pernah mengatakan, bahwa "semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap." Perubahan atau pergeseran tersebut terjadi karena munculnya kesadaran baru terhadap suatu hal. Renaisans atau abad pencerahan sebagai peralihan dari abad pertengahan misalnya,  merupakan reaksi atas tirani gereja di Barat pada saat itu. Gereja dengan hak-hakmya yang absolut dalam menentukan nilai untuk suatu masyarakat menimbulkan keadaan depresi yang tidak berkesudahan. Ilmu pengetahuan direpresi, rasio jadi suatu hal yang diharamkan. Agama jadi titik tolak dalam segala ihwal.
Dengan dibendungnya akal budi tersebut, timbullah suatu kegelisahan yang terstruktur dari berbagai aspek kehidupan. Tidak terkecuali filsafat dan seni. Kelas menengah Renaisans memberontak dari para tuan tanah feodal dan kekuasaan Gereja. Gagasan mengenai subjektivitas, kritik, dan kemajuan diteriakan di berbagai sudut. Kompas, senjata api, dan percetakan merupakan prasyarat penting bagi periode tersebut. Zaman baru telah lahir. Hidup manusia bukan lagi untuk persiapan di akhirat kelak. Manusia ada bukan semata-mata demi Tuhan. Oleh karena itu, manusia boleh berbahagia di kehidupannya yang sekarang. Di dalam novelnya yang berjudul Dunia Sophie, Jostein Gaarder mengatakan bahwa:

Karena itulah kita membicarakan kelahiran kembali humanisme zaman Yunani kuno. Tapi humanisme Renaisans lebih dikenal karena tekanannya pada individualisme. Kita bukan hanya umat manusia, kita adalah individu-individu yang unik. Gagasan ini selanjutnya mendorong pada pemujaan yang tak terkendali pada kecerdasan pikiran.

Bisa dikatakan, bahwa masa Renaisans merupakan babak awal dari suatu proses modernisasi. Rasionalitas dan paradigma manusia sebagai subjek merupakan pokok dari segala tindakan. Ilmu pengetahuan mendapatkan metode baru dalam pendekatan, yakni metode empiris yang sistematis di mana segala sesuatu harus berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan percobaan. Orientasi manusia berubah total dengan kemajuan sebagai tujuan. Pola-pola lama yang sifatnya tradisional disingkirkan dan digantikan oleh pola-pola baru.
Menurut KBBI, modern berarti terbaru; mutakhir atau sikap dan cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Semua yang tidak memiliki basis kesadaran terhadap pola baru tersebut dikatakan reaksioner.
Pada bidang filsafat, Bambang Sugiharto dalam bukunya yang berjudul Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat mengatakan, bahwa karakter yang khas dalam modernisme adalah usaha untuk mencari dasar segala pengetahuan tentang “apa”nya realitas, dengan cara kembali ke subjek yang mengetahui itu sendiri. Dengan kata “apa” sebagai sesuatu yang pokok, manusia menjadi makhluk yang lebih mempertimbangkan bentuk dibanding isi yang ditanyakan lewat “bagaimana”.
Di lain sisi, modernitas juga menawarkan “ahli-ahli” untuk mengatasi berbagai persoalan di kehidupan manusia. Semua diorganisasikan untuk mengatur hidup manusia agar menjadi lebih baik dan praktis. Namun begitu, yang pada mulanya memiliki maksud untuk menawarkan malah berubah menjadi memaksa. Jika sakit misalnya, seseorang harus pergi ke dokter agar sembuh, jika berbuat salah di mata hukum, seseorang harus meletakkan nasibnya pada seorang pengacara. Modern dalam konteks ini bisa diartikan sebagai peniadaan pilihan. Semua persoalan dibakukan dan menjadi kebenaran umum. Logosentrisme dibangun sebagai patokan. Oleh karena itu modernisme yang pada mulanya hadir untuk membongkar mitos dan tradisi, sekarang malah menjadi mitos selanjutnya. Perubahan menjadi mitos tersebut dikarenakan hal tadi, yang berupa penetapan terhadap kebenaran—logosentrisme, dan penyingkiran berbagai kemungkinan-kemungkinan lain.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar