Senin, 15 Desember 2014

Mengenai lambang

Mungkin pengunjung tulisan saya (jika ada) tidak pernah menyadari ada alasan khusus dari pemilihan lambang "O" dalam blog ini. Tidak mengapa. Semua orang punya kepentingan masing-masing ketika membaca. Jadi hal-hal kecil yang anggaplah berdiri di pinggiran tidak perlu diperhatikan. Tapi kali ini saya ingin memberikan alasan tersebut, sekadar sharing bahwa lambang tersebut nyatanya sangat kudus dalam peradaban pramodern manusia Indonesia. 
"O" bukanlah huruf, melainkan angka yang biasa kita sebut kosong. Kosong di sini berarti infinit, keabadian itu sendiri. Sementara satu, dua, tiga, dst merupakan sifat dari kosong. Yang fana. Konsep kosong ini telah berkembang di berbagai macam suku di Indonesia, misalkan Baduy, dayak, dan suku-suku pedalaman yang relatif masih kental dengan unsur filsafat timur. Jadi, jika kosong diidentikkan dengan ketiadaan itu memang benar. Yang salah adalah pemaknaan dari ketiadaan itu sendiri, yang tidak berharga. Padahal Tuhan menciptakan dunia ini dari ketiadaan. Dengan begitu, ketiadaan itu merupakan puncak dari semua yang ada. Orang Baduy menyebut kosong ini ruang awang-uwung. Ruang di mana segalanya bersemayam untuk digalih lebih jauh lagi. Kosong dalam konteks ini merupakan sumber dari segala ihwal. Dia yang menciptakan paradoks seperti kanan-kiri, siang-malam, atas-bawah, bumi-langit, dst, untuk menyelaraskan alam. 

1 komentar: