Daaaaaaaarrrr! Dan sekumpulan Id meledak mengganggu tidur, mengikat kaki,memutus saraf serta pembuluh nadi kalian. Di pojok ruangan, Ego terkapar. Darah menjalar. Sementara Superego duduk di kursi, membawa palu dan sejumput daftar kesalahan.
Senin dini hari, pukul 1 lewat 37 menit.
Aku percaya setiap orang pernah merasakan hal seperti ini, Kamu sudah siap untuk menuntaskan Id mu di dalam mimpi, berselimut tebal dan lampu dipadamkan. Tapi nyatanya satu jam pun belum bisa digunakan untuk pergi ke alam bawah sadar. Matamu mengatup, tapi pikiranmu belum juga sayup.
Senin dini hari, pukul 1 lewat 50 menit.
Kemudian kamu bangun dari ranjang, ragu-ragu menyalakan penerang. Ah, kenapa pula kita tidak bisa larut dalam malam? Ada yang berbisik dari balik dinding kamarmu, dan mengatakan " Buka laptopmu, dan ceritakan apa yang tidak perlu diceritakan". Mungkin kita perlu pelampiasan malam ini. Setidaknya menulis adalah salah satu cara untuk berdamai dengan diri sendiri. Semacam pengakuan, bahwa bisa jadi ada yang salah belakangan ini. Tidak perlu susunan kalimat yang bagus. Tidak perlu pilihan kata yang serius, Tidak perlu dengan tidak perlulah pokoknya.
Senin dini hari, pukul 1 lewat 55 menit.
Laptopmu sudah siap, menunggu untuk disayat. Percayalah, dalam keadaan seperti ini, cuma laptopmu yang bisa jadi penawar. Tapi mungkin jika kau hidup di zaman Chairil Anwar, pena dan kertas yang paling dominan. Ah, taik kucing dengan zaman orang. Hidupilah zamanmu. Cih. Setelah berdebat dengan pikiranmu, akhirnya kamu pun mulai memijat huruf-huruf yang ada.
Masih hari yang sama, Senin dini hari, pukul 2 lewat 10 menit.
"Gua pusing. Gua pusing, Apa yang gua kerjain kaya ga ada hasilnya, berantakan sana-sini. Ga ada yang tuntas. Ah tapi kadang gua juga mikir kalo gua udah ngelakuin hal yang bener. Masalah faedah atau enggaknya itu urusan waktu. Kadang cuma itu yang bisa jadi parameter. Tapi tetep aja di suatu saat kita ngerasa kaya gini, Down. Apalagi di posisi kaya gua, transisi, salah dikit berabe. Kaya listrik, sistemnya parael. Terus gua sekarang mesti gimana yeh? Kadang dipikirin aja emang ga ada hasilnya, malah puyeng sendiri. Kan kata orang jangan kebanyakan mikir, udah lakuin aja. Tapi sesungguhnya orang yang bilang begitu adalah orang yang pernah merasakan hal demikian. Orang yang pernah tersesat di dalam hole itu. Ya tapi emang kadang kita butuh tersesat dulu, tapi nahas kalo ga bawa kompas, bisa-bisa seumur hidup dihabisin di jalan yang ngaco, Bentar gua nyalain rokok sama nyari playlist blues dulu, biar makin enak nulisnya....Oke lanjut, yah sebenarnya udah lama sih gua piara ini kegelisahan, ceilah, telor bebek kali kegelisahan. Ya gitulah intinya, ke-ge-li-sa-ha-n ini lahir dari lingkungan. Ga ada yang salah sih sama lingkungan, sebenernya iklim di lingkungan ini pun udah bagus. Ketika lu liat temen lu punya progres yang bagus dan lu jauh ketinggalan di belakang yah itu jadi tamparan buat lu. Kalo itu gak nampar, sayang banget, berarti lu adalah orang-orang yang pelan, yang ga mau buat perubahan. Terus lu bilang " gua tipenya emang slow, buru-buru mah bikin ancur aja" Iya gua paham, gua ga mastiin di sini lu harus buru-buru tapi setidaknya bergegaslah, jangan terlalu santai. Ketika umur lu udah sampai di angka 20, lu akan sadar betapa pentingnya waktu. Itu hal yang paling mahal. Di lain sisi 10 tahun selanjutnya itu yang menentukan karier lu. Semua ditentukan di dekade itu! Jujur, gua sih takut jadi karyawan, tiap hari bangun jam lima pagi, sholat, mandi, manasin kendaraan, sarapan, jalan. Dan akhirnya keriput lu tumbuh di jalan. Emang pada akhirnya kita dibenturkan dengan masalah finansial, kita butuh makan, keluarga kita butuh makan, semua orang butuh makan, dan makan itu datang dari uang. Jangan salahin pola pikir gua yang begini, coba jujur sama diri sendiri, itu emang salah satu tujuan hidup, kepastian finansial. Masa muda lu pupuk idealisme lu, lu bakal jadi ini bakal jadi itu, tapi sayang akhirnya lu berhenti di perkantoran. Tapi untuk sebagian orang yang memang tidak punya keinginan demikian mah ga masalah, jadi pegawai negeri juga sukur. Yang penting dapet tunjangan, bisa ajak keluarga makan di restoran sekali dalam seminggu. Yah Congralutation buat kalian yang punya keinginan kaya gitu. Sesunguhnya kalian sudah berada di jalan yang benar. Jalanan yang udah dibangun sama peradaban yang membosankan. Terus sebenernya gua mau ngomong apa sih? Ga tau, gua juga bingung mau ngomong apa, intinya gua mau nulis. Titik.
Ah, kesalahan, kesalahan. kenapa orang belajar dari kesalahan itu wajar sedangkan belajar dari orang yang salah itu tidak wajar? aneh, kan sama-sama salah. sama sama ga bisa nentuin mana yang benar. mana yang tepat. Dasar dunia aneh. Karena gua udah tau dunia itu aneh, kayanya gua lebih baik tidur. Dunia itu aneh."
Senin dini hari pukul 3 tepat.
Lalu datanglah mimpi pada bantal, pada guling, pada selimut, pada ranjang yang telah dilumuri doa dari pecandu tembakau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar