Di dalam ruangan ini aku berbicara pada apa pun. Meja, pintu, lemari, dan ventilasi. Mereka itu pendengar yang baik, tidak pernah menyelak pembicaraan. Mereka mendengar dengan seksama apa yang aku utarakan. Mereka hidup. Bukankah semua tergantung pada kita bagaimana memberi pandangan terhadap apa pun? Kematian hanya ada dalam dunia konvensi. Sebuah dunia yang memiliki batas-batas untuk bertingkah laku berdasarkan moral, rasionalitas, etika, dan kesepakatan-kesepakatan lainnya. Manusia memberikan stempel pada benda-benda tersebut karena ia hanya ingin merekam komunikasi melalui suara dan gerak. Bukan lewat rasa. Tetapi, untuk saat ini, rasanya komunikasi satu arah dibutuhkan oleh setiap orang. Individu-individu pada saat ini membutuhkan sukarelawan untuk mendengar, bukan memberi saran. Belum banyak orang yang sadar memang, bahwa bahasa yang dikehendaki nyatanya membawa perselisihan. Bahasa menjadi sebab dalam kesalahan persepsi masing-masing manusia. Peperangan timbul, negara-negara saling meyerang, suami istri saling memaki, wakil rakyat saling melempar asbak, dan anak-anak tetap berjalan dengan mainannya. Mungkin, sebuah benda mati lebih mengerti kapan menjadi teman atau sekadar hiasan.
bagusan layout yang lama :O
BalasHapusbosen
BalasHapus